“Harapan Kami Semakin Tipis”: Kisah Keajaiban Alfatih, Santri yang Bertahan 70 Jam di Bawah Puing Al Khoziny

"Ayah Alfatih (14) menceritakan tipisnya harapan setelah putranya hilang selama tiga hari di reruntuhan Ponpes Al Khoziny. Sebuah keajaiban terjadi saat Alfatih ditemukan selamat setelah 70 jam."
Ayah Alfatih (14) menceritakan tipisnya harapan setelah putranya hilang selama tiga hari di reruntuhan Ponpes Al Khoziny. Sebuah keajaiban terjadi saat Alfatih ditemukan selamat setelah 70 jam. (Dok. Ist)

Menurut Hannan, secara keilmuan, manusia hanya bisa bertahan hidup hingga 72 jam tanpa asupan.

“Kami sudah hampir pasrah, tapi Allah berkehendak lain,” imbuhnya dengan nada haru.

Setelah ditemukan, Alfatih langsung dilarikan ke RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo.

Ajaibnya, ia tidak mengalami luka serius.

 “Hanya lecet-lecet ringan,” kata Hannan.

Kepulangan Alfatih ke rumahnya di Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, disambut isak tangis bahagia oleh seluruh keluarga besar.

Sebagai wujud syukur, Hannan langsung mengajak putranya berziarah ke makam kakek dan neneknya, sebuah rutinitas yang selalu dilakukan Alfatih.

“Kemarin itu hari Sabtu, Alfatih ke makam sebelum kembali ke pondok, dan hari Seninnya kejadian itu. Lalu tadi (setelah pulang dari RS) kami langsung ke sana berdoa,” jelas Hannan.

Bagi keluarga, selamatnya Alfatih dari tragedi maut itu adalah sebuah mukjizat yang tak akan pernah mereka lupakan.

Baca Juga: Korban Jiwa Ambruknya Musala Al Khoziny Sidoarjo Mencapai 37 Orang, 26 Santri Masih Hilang

(*Mira)