Kepala BNPB, Suharyanto, memastikan kekuatan personel lebih dari cukup untuk menangani situasi ini.
“Kita tidak pernah kekurangan personel. Kita datangkan ratusan personel dengan tiga pembagian waktu pekerjaan. Mereka terus bekerja secara profesional,” ungkap Kepala BNPB.
Tantangan Identifikasi Jenazah (DVI) dan Solusinya
Setiap jenazah yang berhasil dievakuasi segera dibawa ke posko Disaster Victim Identification (DVI) untuk diidentifikasi.
Proses ini menjadi sangat krusial karena kondisi banyak korban yang sulit dikenali.
Identifikasi ilmiah melalui DVI penting untuk memberikan kepastian hukum dan martabat bagi korban serta keluarganya.
Kendala muncul karena sebagian besar korban adalah anak-anak dan remaja yang belum memiliki KTP.
Tim DVI mengatasi ini dengan mengandalkan data sekunder seperti ijazah, sidik jari dari dokumen pendidikan, serta data antemortem (data fisik sebelum meninggal) yang diberikan oleh keluarga, seperti tanda lahir, kondisi gigi, atau rekam medis.
Pendampingan Keluarga Menjadi Prioritas Utama
Salah satu fokus utama dalam penanganan darurat insiden Musala Al Khoziny adalah dukungan bagi keluarga korban. Kepala BNPB menginstruksikan pembukaan posko terpadu sebagai pusat informasi dan pengaduan resmi.
“Saya minta Pak Dandim, Pak Kapolres dan unsur pemerintah daerah semua melayani apa yang menjadi pertanyaan masyarakat. Tentunya kita sebagai negara hukum harus memahami apa saja informasi yang dapat disampaikan maupun yang dikecualikan. Tolong ini dijelaskan secara baik,” jelas Suharyanto.
Tim konselor dari Polri dan Dinas Sosial juga memberikan layanan dukungan psikososial.
Baca Juga: SAR Ponpes Al Khoziny Kini Fokus Evakuasi Korban Meninggal Dunia
Selain itu, BNPB akan menambah tenda khusus bagi keluarga di Rumah Sakit Bhayangkara untuk memberikan kenyamanan selama proses identifikasi berlangsung.
“Nanti di sana (RS Bhayangkara-red) keluarga korban lebih nyaman. Nanti disiapkan logistik dan peralatannya. Kalau di sini kita yang penting bisa bekerja dengan sebaik-baiknya. Untuk keluarga yang kehilangan korban ini kita siapkan kebutuhannya secara maksimal,” tambah Suharyanto.
Jaminan Logistik dan Apresiasi Tim Gabungan
Ketersediaan logistik seperti makanan siap saji, air bersih, dan peralatan SAR terus dipastikan tercukupi.
Kepala BNPB menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan logistik adalah bagian tak terpisahkan dari keberhasilan operasi.
“Jangan semua kebutuhan ini terabaikan. Ini menjadi satu bagian sari operasi secara keseluruhan dalam penanggulangan bencana,” kata Suharyanto.
Ia pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim yang terlibat, yang dinilainya telah bekerja tanpa lelah dan menunjukkan hasil positif dalam seluruh aspek penanganan.
“Penanganan darurat ini bukan hanya tentang pencarian korban, tetapi juga memastikan keluarga mendapatkan pendampingan dan hak mereka terpenuhi. Semua unsur bekerja bersama-sama tanpa mengenal lelah,” pungkasnya.
(*Red)
















