Update Penanganan Musala Al Khoziny Sidoarjo: Tim Gabungan Fokus pada SAR dan Identifikasi Korban

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, saat memimpin rapat koordinasi dan konferensi pers tentang update Penanganan Bencana Non-Alam akibat Bangunan Roboh di Musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, di Posko BNPB, pada Sabtu (4/10). Foto: HO/Faktakalbar.id
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, saat memimpin rapat koordinasi dan konferensi pers tentang update Penanganan Bencana Non-Alam akibat Bangunan Roboh di Musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, di Posko BNPB, pada Sabtu (4/10). Foto: HO/Faktakalbar.id

Faktakalbar.id, SIDOARJO – Memasuki hari keenam pasca-insiden ambruknya Musala Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, tim Satuan Tugas (Satgas) Gabungan terus melanjutkan proses penanganan darurat.

Operasi yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini masih memprioritaskan tiga aspek utama: pencarian dan pertolongan (SAR), identifikasi jenazah korban, serta pendampingan intensif bagi keluarga korban.

Baca Juga: Tragedi Musala Ponpes Al Khoziny: Korban Jiwa Bertambah Jadi 14 Orang, 49 Santri Masih Dicari

Hingga Sabtu (4/10) pukul 12.00 WIB, data terbaru menunjukkan total korban mencapai 167 orang.

Dari jumlah tersebut, 118 orang telah ditemukan, dengan rincian 104 selamat dan 14 orang dinyatakan meninggal dunia.

Saat ini, sebanyak 49 orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim di lapangan.

Evakuasi Korban di Tengah Reruntuhan Beton

Dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, pada Sabtu (4/10), ditegaskan bahwa fokus utama tetap pada upaya evakuasi korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan empat lantai tersebut.

Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan lainnya bekerja 24 jam dengan sistem tiga shift.

Baca Juga: Korban Tewas Gedung Ponpes Sidoarjo Ambruk Bertambah Jadi 7 Orang

Tantangan utama di lapangan adalah tebalnya tumpukan material beton yang menghambat akses ke titik-titik diduga lokasi korban.

Untuk mengatasi hal ini, alat berat dikerahkan dengan pengawasan ketat dari lebih dari 400 personel untuk menjamin keamanan dan efektivitas proses evakuasi.