Opini  

Tabir Dibalik Robohnya Pesantren Al Khoziny Sidoarjo

Mei Purwowidodo
Mei Purwowidodo. Foto: HO/Faktakalbar.id

Faktakalbar.id, OPINI – Peristiwa robohnya bangunan Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana sebuah niat baik bisa berujung petaka ketika aspek teknis diabaikan.

Menurut informasi yang berkembang dari berita yang dilansir oleh www.detik.com ada sejumlah hal yang patut dicermati.

Baca Juga: Tragedi Musala Ponpes Al Khoziny: Korban Jiwa Bertambah Jadi 14 Orang, 49 Santri Masih Dicari

Pertama, desain awal bangunan hanya untuk satu lantai, namun dalam pelaksanaan berubah menjadi tiga lantai.

Perubahan besar ini jelas menuntut perhitungan ulang pada daya dukung pondasi, dimensi kolom, balok, serta tulangan.

Jika pondasi hanya dirancang menahan beban satu lantai, maka membebaninya hingga tiga kali lipat bagaikan memaksa tubuh kurus memikul beban raksasa.

Kedua, proses belajar yang tetap berjalan di tengah pengecoran juga menimbulkan masalah tersendiri.

Beton membutuhkan waktu minimal 21 hari agar benar-benar berfungsi sebagai struktur.