Meskipun menghadapi tantangan besar seperti urbanisasi, risiko banjir, dan terbatasnya ruang publik, Edi yakin Pontianak dapat mengatasinya dengan strategi yang tepat.
“Tantangan besar menunggu: urbanisasi menekan lahan, iklim memicu risiko banjir, ruang terbuka publik semakin terbatas. Tapi dengan strategi tepat, Pontianak bisa menjawab itu semua,” katanya.
Sejumlah program konkret telah disiapkan untuk mencapai visi ini, di antaranya revitalisasi tepian Sungai Kapuas sebagai ruang publik, pembangunan TPA Terpadu Batu Layang untuk pengelolaan sampah modern, serta perbaikan sanitasi.
Baca Juga: Edi Kamtono: Kebijakan Pembangunan Pontianak Untuk Kesejahteraan Masyarakat
Selain itu, kualitas air Sungai Kapuas juga menjadi perhatian serius.
“Kapuas adalah sumber utama air baku PDAM. Produksi air bersih di Pontianak lebih mahal dibanding daerah pegunungan di Jawa. Menjaga Kapuas berarti menjaga kehidupan,” ujar Edi.
Pemerintah Kota juga terus berupaya memeratakan akses air bersih, pendidikan, kesehatan, hingga perumahan. Program pendukung UMKM juga digiatkan melalui fasilitas Rumah Packaging gratis.
“Pertumbuhan ekonomi berbasis jasa tidak boleh hanya dinikmati sebagian, tapi harus dirasakan semua warga,” tambahnya.
Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi pembangunan ini.
“Kota ini bukan hanya dibangun pemerintah, tapi oleh semua,” papar Edi.
Musrenbang secara rutin melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk anak-anak, perempuan, pemuda, dan kelompok disabilitas.
Baca Juga: HUT IAI ke-66 di Pontianak, Wali Kota Tekankan Peran Arsitek & Tantangan Pembangunan Kota
Digitalisasi layanan publik pun terus dipacu untuk meningkatkan transparansi dan kecepatan.
Edi mengajak seluruh warga untuk berkontribusi dengan menjaga alam.
“Pontianak adalah rumah sekaligus sahabat bagi kita semua. Bersahabat dengan alam, bersahabat dengan warganya, dan bersahabat dengan masa depan,” pungkasnya.
(*Red/Kominfo/Prokopim)
















