Ini adalah bentuk halusinasi yang terjadi karena otak masih berada di antara kondisi tidur dan sadar.
Area otak yang menghasilkan mimpi masih aktif, sementara indra kita sudah mulai bekerja.
Kondisi ini membuat otak mencoba mengisi kekosongan informasi dengan halusinasi, yang sering kali terasa menakutkan.
3. Pemicu dan Faktor Risiko
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ketindihan.
Kelelahan ekstrem atau kurang tidur dapat mengacaukan siklus tidur alami.
Pola tidur yang tidak teratur, seperti pada pekerja shift, juga dapat memicu kondisi ini. Selain itu, posisi tidur telentang sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko, begitu pula dengan kondisi mental seperti stres, kecemasan, dan trauma.
Memahami ketindihan dari sudut pandang ilmiah dapat membantu mengurangi rasa takut dan cemas saat mengalaminya. Ini adalah kondisi sementara dan umumnya tidak berbahaya.
Jika terjadi berulang, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Playlist Santai: 5 Lagu Bahasa Inggris Terbaik untuk Mengusir Insomnia
(*Mira)
















