Geger Jagat Dunia Maya! Wagub Krisantus Lempar Pantun “Ingin Jadi Gubernur”

"Krisantus Kurniawan Wagub Kalbar"
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, PONTIANAK – Pantun Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mendadak jadi buah bibir sekaligus menimbulkan pro-kontra di jagat media sosial.

Dalam sebuah kesempatan, Krisantus melontarkan pantun yang berbunyi:

“Kucing kurus mandi di papan,
mandi ke papan si kayu punggur.
Badan Krisantus kurus bukan tak makan,
karena ingin menjadi gubernur.”

Sontak, pantun bernada sindiran itu mengundang berbagai reaksi. Ada yang menilai pantun tersebut sekadar gurauan ringan khas budaya Melayu. Namun tidak sedikit yang menafsirkannya sebagai sinyal politik terselubung.

Di media sosial Facebook, warganet terbelah. Sebagian memberikan komentar dukungan, menganggap pantun itu bentuk kejujuran seorang politisi yang blak-blakan. Sebagian lain justru mengkritik, menyebut pantun itu terlalu vulgar untuk diucapkan seorang pejabat publik.

Baca Juga: Wagub Krisantus Tinjau UPT PPD Bapenda Kalbar Di Sanggau

Hingga kini, Krisantus belum memberikan klarifikasi resmi apakah pantun itu hanya lelucon atau benar-benar isyarat politik menjelang kontestasi Pilgub Kalbar. Namun yang jelas, pantun singkat tersebut berhasil membuat riuh jagat maya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Faktakalbar.id melalui sambungan telepon WhatsApp, tokoh masyarakat Dayak, Adrianus Rumpe, menilai bahwa pantun itu sejatinya hanyalah pemicu percakapan publik, bukan inti masalah.

“Di balik pantun itu ada persoalan yang jauh lebih serius, yakni soal kewenangan, koordinasi, dan relasi antara Gubernur dan Wakil Gubernur,” ungkap Adrianus.

Menurutnya, selama ini dalam lingkup ‘parit kekuasaan’, berbagai kegiatan, pelatihan, hingga urusan kerja selalu dilaksanakan tanpa melibatkan Wakil Gubernur. Bahkan sering kali, Wakil Gubernur tidak mengetahui siapa saja yang akan dilibatkan. Tiba-tiba saja hasil kebijakan sudah jadi, tanpa pernah dibicarakan.

“Ini jelas mengabaikan fungsi dan posisi Wakil Gubernur. Bahkan ada tugas dan fungsi yang seharusnya melekat pada wagub justru diambil alih,” tambahnya.

Baca Juga: Wagub Krisantus Tekankan Pemerataan Pembangunan Hingga Pedalaman Kalbar

Adrianus juga menekankan, pantun Krisantus itu pada dasarnya bagian dari tradisi berbalas pantun sebuah gaya komunikasi yang cair, yang idealnya mencerminkan kesatuan kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur.

Namun kenyataannya, praktik di lapangan justru menunjukkan adanya upaya untuk menguasai penuh, tanpa ruang diskusi maupun penghormatan pada posisi wakil.

“Jadi kalau pantun itu jadi polemik, bukan karena kalimatnya, tapi karena publik mulai mempertanyakan: apakah Wakil Gubernur selama ini benar-benar diberi ruang, atau justru dipinggirkan?” pungkasnya.

(*RN)