Warisan Terlarang Pramoedya: 3 Novel yang Mengguncang Orde Baru

"Mengapa buku Pramoedya Ananta Toer dilarang pada era Orde Baru? Simak 3 novel legendaris dari Tetralogi Buru yang dianggap berbahaya dan wajib Anda baca."
Mengapa buku Pramoedya Ananta Toer dilarang pada era Orde Baru? Simak 3 novel legendaris dari Tetralogi Buru yang dianggap berbahaya dan wajib Anda baca. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Di sebuah masa ketika kata-kata bisa lebih tajam dari peluru, dan sebuah cerita dianggap lebih berbahaya dari pemberontakan, nama Pramoedya Ananta Toer berdiri sebagai monumen perlawanan.

Karya-karyanya, yang lahir dari sunyi dan getirnya pembuangan di Pulau Buru, menjadi warisan terlarang yang ironisnya justru dicari dan dibaca dalam bisik-bisik di bawah tanah.

Baca Juga: Pernyataan Fadli Zon Disebut Lukai Kembali Korban Tragedi Perkosaan Massal 1998

Rezim Orde Baru dengan kekuasaannya yang absolut berusaha keras membangun narasi tunggal tentang sejarah dan kebangsaan.

Sastra yang dianggap menyimpang, terutama yang berbau “kiri” atau menyuarakan penderitaan kaum tertindas, langsung dicap subversif dan diberangus.

Dari sekian banyak karya Pramoedya, tiga novel yang menjadi bagian dari Tetralogi Buru ini adalah yang paling fundamental dan ditakuti.

Membaca kembali buku-buku ini, terutama di bulan September yang sarat akan gema sejarah, bukan sekadar membuka lembaran sastra, melainkan sebuah upaya merawat ingatan bangsa.

1. Bumi Manusia (1980)
Inilah gerbang yang memperkenalkan dunia pada Minke, seorang pemuda pribumi jenius di akhir abad ke-19 yang menjadi satu-satunya siswa pribumi di sekolah elite Belanda (HBS).

Novel ini adalah perpaduan epik antara kisah cinta tragis Minke dengan Annelies Mellema, seorang gadis Indo-Belanda, dengan proses pergulatan batinnya melawan ketidakadilan hukum dan rasisme kolonial.

Bumi Manusia dianggap menanamkan benih perlawanan dengan cara yang cerdas.

Ia menunjukkan bahwa martabat dan keadilan bisa diperjuangkan lewat pengetahuan dan tulisan. Narasi kebangkitan kesadaran seorang pribumi ini dianggap mengancam stabilitas dan narasi kekuasaan yang ada.

2. Anak Semua Bangsa (1981)
Melanjutkan kisah Minke setelah tragedi personalnya, Anak Semua Bangsa adalah novel perjalanan spiritual dan intelektual.

Minke dipaksa keluar dari zona nyamannya dan berkeliling untuk menyaksikan langsung penindasan dan kemiskinan yang dialami bangsanya.