Iwan Fals mengajak untuk membongkar segala bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Mendengarkan lagu ini di bulan September seolah menyalakan kembali api semangat untuk terus mempertanyakan narasi kekuasaan dan memperjuangkan kebenaran yang terkubur.
3. Kebenaran Akan Terus Hidup – Fajar Merah
Ditulis dan dinyanyikan oleh putra penyair Wiji Thukul yang hilang diculik, lagu ini memiliki lapisan makna yang sangat personal dan mendalam.
Dengan iringan folk yang sederhana namun tegas, Fajar Merah menyenandungkan harapan bahwa kebenaran takkan pernah bisa dipadamkan.
Lagu ini adalah suara bagi keluarga korban penghilangan paksa dan simbol keyakinan bahwa meski jasad bisa dilenyapkan, gagasan akan terus hidup.
4. Darah Juang (Lagu Perjuangan Mahasiswa)
Meski identik dengan gerakan Reformasi 1998, “Darah Juang” adalah representasi dari setiap perjuangan melawan penindasan di negeri ini.
Liriknya yang menggambarkan pengorbanan (“Darah juang dan air mata“) demi sebuah cita-cita kemanusiaan terasa relevan untuk mengenang para korban tragedi 1965.
Lagu ini menjadi pengingat kolektif bahwa sejarah Indonesia diwarnai oleh perjuangan panjang untuk meraih keadilan.
5. Mafia Hukum – Navicula
Band grunge asal Bali ini menyajikan kritik sosial yang keras dan relevan dengan kondisi hari ini.
“Mafia Hukum” menyoroti carut-marut sistem peradilan yang menjadi salah satu alasan utama mengapa kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, termasuk tragedi 1965, tidak pernah terselesaikan.
Lagu ini adalah representasi frustrasi generasi sekarang terhadap warisan impunitas yang terus melanggeng.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Angka: Rekomendasi Novel Fiksi Sejarah untuk Memahami Peristiwa 98
(*Mira)
















