Pada saat yang sama, BoSaN dapat berfungsi sebagai modul pelengkap untuk sistem MRV REDD+, dengan mengukur co-benefits dalam bentuk pelestarian biodiversitas.
Ini memperkuat klaim bahwa kegiatan konservasi dan pengurangan deforestasi dalam wilayah REDD+ bukan hanya menyelamatkan pohon, tetapi juga spesies rentan.
Baca Juga: Kalimantan Barat dan Jejak Borneo di Panggung NaSTeC 2025
3. Jembatan yang Terbentang: BoSaN dalam Sistem Kebijakan Kalbar
Sebagai science policy bridge, BoSaN secara konkret bisa mendukung:
- Penyusunan baseline dan target spesifik REDD+ Kalbar Data lapangan dan pemodelan habitat spesies bisa digunakan untuk memperkuat FREL subnasional Kalbar.
- Validasi dan verifikasi klaim hasil REDD+ berbasis co-benefits biodiversitas Ketika sebuah wilayah dilaporkan berhasil mengurangi deforestasi, BoSaN bisa menunjukkan peningkatan keberadaan spesies indikator—menjadi justifikasi ilmiah di balik hasil tersebut.
- Identifikasi prioritas restorasi dan konservasi Dengan memetakan habitat kritis, BoSaN membantu pengalokasian anggaran restorasi gambut, rehabilitasi mangrove, dan konservasi hutan primer secara lebih efektif.
- Mendorong partisipasi multi-stakeholder Data BoSaN bisa dibagikan kepada masyarakat adat, pengusaha kehutanan, dan pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan bersama dengan basis data bersama.
4. Pemanfaatan Dana GCF ≈ Rp1 Triliun
Green Climate Fund (GCF) merupakan salah satu sumber pendanaan utama implementasi REDD+ dan FOLU Net Sink. Dengan anggaran sekitar Rp1 triliun, dana ini bisa dianjurkan untuk dialokasikan ke kegiatan BoSaN:
- Pengembangan dan penguatan AI-MRV integratif Investasi dalam infrastruktur digital (server, satelit, penyimpanan big data), kapasitas AI, dan dashboard interoperable antara KLHK, Pemprov Kalbar, serta BoSaN.
- Survei lapangan terpadu dan restorasi prioritas Menugaskan ekspedisi seperti Bukit Kuri dan Bukit Raya untuk mengumpulkan data baseline biodiversitas secara sistematik. Hasil ini menjadi input untuk prioritas restorasi area yang rawan deforestasi, seperti mangrove Mempawah atau gambut Sintang.
- Capacity building dan partisipasi komunitas Pelatihan untuk perhutanan sosial, masyarakat adat, dan KPH tentang pengambilan data lapangan, penggunaan teknologi AI-BoB, dan interpretasi hasil. Menumbuhkan pemahaman lokal terhadap nilai karbon dan biodiversitas sebagai aset bersama.
- Uji coba dan pilot co-benefit projects Zona-zona demo di wilayah tertentu yang mengimplementasikan REDD+ plus konservasi biodiversitas dengan monitoring BoSaN sebagai studi kasus hasil yang bisa ditawarkan sebagai model bagi donor global.
Baca Juga: Reshuffle Sekarang: Akhiri Politik Pamer, Pulihkan Kepercayaan
5. Tantangan dan Gagasan untuk Mengatasinya
Beberapa tantangan yang perlu diantisipasi:
- Sinergi data dan otoritas lembaga – diperlukan interoperability antara data BoSaN dengan SRN, NFMS, dan registry karbon nasional.
- Kapasitas teknis terbatas di daerah- pelatihan dan pendampingan perlu terus ditingkatkan.
- Resistensi dari sektor perkebunan dan konversi lahan – harus ada insentif konkret agar aktor ini beralih ke praktik rendah emisi.
Untuk mengatasinya, BoSaN bisa berkolaborasi dengan stakeholder REDD+, sektor penelitian, dan donor internasional. Pendekatan transparansi data dan dialog inklusif penting untuk membangun kepercayaan.
6. Kesimpulan: Jalan Menuju Net Sink – Bersama, Ilmiah dan Inklusif
BoSaN memiliki potensi luar biasa untuk menjadi integrator kebijakan berbasis riset biodiversitas dan iklim di Kalbar. Dengan dukungan dana GCF atau sumber pendanaan lainnya, BoSaN bukan hanya memperkuat implementasi REDD+ dan FOLU Net Sink, tapi juga memastikan bahwa konservasi di Kalbar bersifat inklusif, akuntabel, dan berdampak nyata.
Dengan demikian, BoSaN bukan sekadar alat teknologi, melainkan fondasi kebijakan masa depan di mana hutan tidak hanya diselamatkan demi karbon saja, tetapi juga demi kehidupan keanekaragaman hayati dan ketahanan masyarakat setempat terhadap perubahan iklim.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim UNTAN dan Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini adalah opini pribadi penulis. Pandangan yang disampaikan tidak mewakili pandangan redaksi. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi informasi secara mandiri dan bijak dalam menyikapinya.
















