Pooling Fund Bencana: Inovasi Pendanaan untuk Penanggulangan Bencana yang Lebih Tangguh

Seminar Pemanfaatan Pooling Fund Bencana dan Dana Perubahan Iklim dalam The 4th Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) di Jakarta International Expo (JIExpo) Jakarta Pusat, pada Rabu (11/9).
Seminar Pemanfaatan Pooling Fund Bencana dan Dana Perubahan Iklim dalam The 4th Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) di Jakarta International Expo (JIExpo) Jakarta Pusat, pada Rabu (11/9/2025).

Skema inovatif ini diharapkan dapat melindungi keuangan negara dan memastikan penanganan bencana tidak terhambat oleh masalah pendanaan.

Baca Juga: BNPB Gelar Seminar Nasional Pengembangan Sains dan Teknologi Menuju Industrialisasi Kebencanaan

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menyatakan bahwa persiapan implementasi dana bersama ini terus berjalan dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Dunia.

“Saya rasa Pooling Fund Bencana berpeluang sangat besar untuk berkembang sehingga kita harus membuat lompatan besar dan berfokus pada bagaimana menggunakan inovasi ini untuk kebutuhan primer dan fundamental,” ungkap Raditya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan perubahan pola pikir dari sekadar responsif menjadi investasi untuk mitigasi risiko.

“Bukan hanya sekedar berpikir mengenai keuntungan, namun bagaimana pengelolaan keuangan ini ditujukan untuk mengurangi risiko bencana yang lebih besar,” tegasnya.

Tata Kelola yang Akuntabel dan Tepat Sasaran

Salah satu perhatian utama dalam seminar ini adalah bagaimana mekanisme dana bersama akan dijalankan.

Direktur Strategi Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Kementerian Keuangan, Suska, memastikan bahwa skema ini tidak akan mengurangi alokasi dana penanggulangan bencana yang sudah ada.

Sementara itu, Roki Gangsar Winoto selaku Ketua Tim Asuransi dan Perlindungan Sosial dari Kemenkeu, menambahkan bahwa pemerintah sedang mengkaji mekanisme transfer risiko untuk mengoptimalkan penyerapan dana dari sumber domestik dan internasional.

Baca Juga: Tinggi Risiko Bencana di NTB, BNPB Bangun Gedung Pusat Pengendalian Operasi di Empat Titik

Dari sisi BNPB, Direktur Sistem Penanggulangan Bencana, Agus Wibowo, menjelaskan bahwa proses penyaluran dana akan melalui tahapan yang ketat.

“Proses bisnis penyaluran dana bersama dapat diakses oleh pemohon mulai tahap penyusunan proposal, penelaahan, verifikasi, dan evaluasi,” kata Agus, untuk memastikan dana tersebut tepat sasaran.

Hal ini didukung oleh Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto, yang menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam merumuskan tata kelola agar akuntabel.

Dukungan Internasional dan Kunci Keberhasilan

Operations Manager World Bank, Alanna L. Simpson, turut memberikan pandangannya. Menurutnya, tantangan terbesar bukanlah ketersediaan anggaran, melainkan kesiapan dalam menggunakannya secara efektif.

“Pengembangan tata kelola Pooling Fund Bencana sudah berada dalam jalur yang tepat. Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan proses ini untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana dalam setiap level mulai dari tingkat individu, lokal, provinsi, dan nasional,” ujar Alanna.

Keberhasilan skema ini pada akhirnya akan bergantung pada tata kelola yang kuat, transparan, dan akuntabel.

Dengan dihadiri lebih dari 650 peserta, seminar di ADEXCO 2025 ini menjadi langkah awal yang strategis untuk menyosialisasikan manfaat Pooling Fund Bencana kepada seluruh pemangku kepentingan.

Baca Juga: ADEXCO, Kepala BNPB: Forum Berbagai Informasi dan Praktik Baik Kebencanaan

(*Red)