4. Jangan Lupakan Kebutuhan Dasar Tubuh
Seringkali mahasiswa mengorbankan kesehatan fisik demi skripsi: begadang semalaman, makan mie instan setiap hari, dan tidak pernah bergerak dari depan laptop.
Padahal, tubuh yang lelah akan menghasilkan pikiran yang stres.
Pastikan Anda mendapatkan tidur yang cukup (7-8 jam), makan makanan bergizi, dan sempatkan bergerak.
Olahraga ringan seperti berjalan kaki selama 15-30 menit dapat melepaskan hormon endorfin yang efektif meredakan stres.
5. Tetap Terhubung, Jangan Mengisolasi Diri
Mengerjakan skripsi bisa terasa sangat sepi. Jangan biarkan diri Anda terisolasi.
Ceritakan keluh kesah Anda kepada teman seperjuangan, karena mereka adalah orang yang paling mengerti apa yang Anda rasakan.
Selain itu, luangkan waktu untuk keluarga dan teman-teman di luar lingkaran akademis.
Berinteraksi dengan mereka akan mengingatkan Anda bahwa hidup Anda lebih dari sekadar lembaran-lembaran skripsi.
6. Kelola Komunikasi dengan Dosen Pembimbing
Hubungan dengan dospem bisa menjadi sumber dukungan atau justru sumber stres.
Kuncinya adalah komunikasi yang proaktif dan efektif. Jangan menghilang dan baru muncul saat Anda sudah buntu total.
Jadwalkan bimbingan secara rutin, datang dengan persiapan, dan siapkan daftar pertanyaan spesifik.
Anggap masukan dan revisi dari dospem sebagai cara untuk memperbaiki kualitas skripsi Anda, bukan sebagai serangan personal.
7. Jadwalkan Waktu “Bebas Skripsi”
Untuk menghindari kejenuhan (burnout), Anda wajib memiliki waktu di mana Anda benar-benar “bebas” dari skripsi.
Jadwalkan satu hari dalam seminggu atau beberapa jam setiap hari untuk melakukan hobi yang Anda sukai.
Nonton film, bermain game, membaca novel, atau sekadar bersantai tanpa merasa bersalah.
Memberi otak Anda waktu untuk beristirahat justru seringkali memicu kreativitas dan memberikan perspektif baru saat Anda kembali mengerjakan skripsi.
Baca Juga: Trik Menyimpan Sayuran Tanpa Kulkas agar Tetap Segar
(*Mira)
















