Faktakalbar.id, NASIONAL – Penyakit jamur Ganoderma yang tadinya hanya menyerang pohon kelapa sawit tua di daerah pesisir kini menyebar luas ke seluruh perkebunan di Malaysia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, penyakit ini muncul jauh lebih awal dalam siklus pertumbuhan, mengancam hasil panen di area tanam baru, demikian laporan para ahli industri pertanian.
Baca Juga: Borneo Forum 2025 di Pontianak Tegaskan Sawit Penopang Ekonomi Nasional
Meningkatnya serangan jamur ini di Malaysia, sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar kedua, dan juga di Indonesia, menjadi masalah baru bagi industri yang sudah berjuang dengan stagnasi produksi karena usia perkebunan yang menua.
Penyebaran yang Semakin Cepat dan Sulit Terdeteksi
Ganoderma, nama jamur tersebut, kini muncul pada penanaman generasi kedua.
Padahal, sebelumnya penyakit ini baru terlihat setelah tiga siklus tanam, ungkap Julian McGill, direktur pelaksana dari perusahaan konsultan tanaman minyak Glenauk Economics.
Ia menjelaskan bahwa penyakit ini lebih sering terjadi ketika generasi sawit berikutnya ditanam di lahan yang sama secara terus-menerus.
“Pemberlakuan kebijakan tanpa pembakaran di lapangan juga meningkatkan penyebarannya, dan contoh-contoh Ganoderma pada penanaman yang lebih baru, tanah pedalaman, dan pohon yang lebih muda tampaknya semakin sering terjadi,” kata McGill.
Ganoderma menyebar perlahan, namun deteksinya sangat sulit.
“Saat Anda melihat gejala di lapangan, penyakitnya sudah mapan, dan infeksinya mungkin sudah menyebar,” jelasnya.
Sebelumnya, para pemilik perkebunan akan membakar pohon-pohon tua untuk membersihkan lahan bagi penanaman baru.
Baca Juga: Dituding Tak Transparan, Kebun Sawit Milik Anak Usaha Sampoerna Agro Disegel Petani Plasma di Landak
Metode ini efektif menghentikan penyebaran infeksi yang ada. Namun, pembakaran telah dilarang karena menjadi salah satu penyebab kabut asap di Asia Tenggara.
Kerugian Besar Menanti Para Petani
Chong Khim Phin, seorang profesor patologi tumbuhan di University Malaysia Sabah, mengatakan bahwa beberapa penelitian memperkirakan peningkatan infeksi Ganoderma sebesar 1% dapat mengurangi hasil panen hingga 0,5% sampai 0,8%. Ini bergantung pada beberapa faktor, seperti usia pohon dan kepadatan infeksi.
“Selama 25 tahun siklus tanam, ini bisa berarti kerugian kumulatif 15%-20% dalam produktivitas tandan buah segar (TBS) di area yang sangat terdampak,” terangnya.
Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board, dari 1,46 juta hektar area kelapa sawit yang disurvei tahun lalu, sebanyak 199.644 hektar, atau 13,7%, terinfeksi Ganoderma. Wilayah yang paling terdampak adalah Johor, Sabah, Sarawak, Perak, dan Negeri Sembilan.















