Namun, perlu diingat, shalat Tahajud tidak akan bernilai jika shalat fardhu lima waktu kita masih bolong-bolong.
Baca Juga: ICMI Serukan Sikap Bijak, Desak Presiden Ambil Langkah Cepat Atasi Gejolak Nasional
Shalawat Paling Dicintai Sang Kekasih Allah
Jika shalat fardhu adalah fondasi, lantas shalawat apa yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW? Jawabannya adalah Shalawat Ibrahimiyah.
Ini bukan karangan manusia, melainkan shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.
Para sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana cara memberi salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?”
Rasulullah SAW kemudian mengajarkan lafazh shalawat ini:
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidum majid.”
Artinya: “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
(HR. Al-Bukhari, Hadits No. 3370 dan HR. Muslim, Hadits No. 405).
Shalawat ini memiliki kedudukan tak tertandingi karena dua alasan utama.
Pertama, ia adalah satu-satunya shalawat yang diajarkan secara langsung oleh Rasulullah SAW. Kedua, lafazh ini wajib dibaca dalam tasyahud akhir setiap shalat fardhu, yang menunjukkan betapa pentingnya ia dalam ibadah utama kita.
Ini adalah bukti bahwa Nabi menghendaki kita mengingat dan mendoakannya setiap saat.
Shalawat Ibrahimiyah menjadi jembatan cinta yang paling kokoh, menghubungkan hati kita langsung kepada beliau, dan melalui beliau, kita mendapatkan syafaat yang sangat kita harapkan di Hari Kiamat.
Merajut Cinta di Bulan Kelahiran
Sebagai penutup, perayaan Maulid Nabi 1447 H ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk menguatkan kembali dua ibadah fundamental ini. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan perayaan di luar, tetapi melupakan substansi di dalamnya.
Marilah kita jadikan ketaatan pada shalat fardhu sebagai prioritas utama. Karena tanpa itu, ibadah lain tidak akan memiliki makna yang sempurna.
Dan marilah kita hidupkan hari-hari kita dengan memperbanyak Shalawat Ibrahimiyah, sebagai bukti cinta yang tulus dan wujud syukur atas kelahiran Sang Pembawa Risalah.
Dengan mengamalkan keduanya secara konsisten, kita tidak hanya merayakan hari lahir Nabi, tetapi juga merayakan kembali ajaran beliau dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga, dengan demikian, kita menjadi umat yang senantiasa berada dalam naungan cinta dan syafaat Rasulullah SAW.
Oleh: GUSTI HARDIANSYAH, Ketua ICMI ORWIL KALBAR
*Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan serta kebijakan redaksi Faktakalbar.id. Seluruh isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
















