Tidak hanya itu, kontrak berjangka CPO untuk Desember 2025 juga naik 91 Ringgit Malaysia menjadi 4.499 Ringgit Malaysia per ton.
Tren kenaikan ini terus berlanjut hingga tahun 2026. Kontrak Januari 2026 naik 84 Ringgit Malaysia menjadi 4.509 Ringgit Malaysia per ton, dan Februari 2026 meningkat 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.497 Ringgit Malaysia per ton.
Baca Juga: Kritik Keras Prabowo: Ironi Negara Produsen Sawit Terbesar Pernah Krisis Minyak Goreng
Menurut David Ng, seorang trader komoditas, kenaikan harga CPO ini dipicu oleh ekspektasi pasar akan ekspor yang lebih kuat.
“Tidak hanya itu, sentimen pasar mendapat dorongan dari prospek output yang lesu sehingga menopang harga,” jelasnya.
“Kami melihat level support di 4.400 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 4.580 Ringgit Malaysia per ton.” Ia menambahkan,
Data dari surveyor kargo Intertek Testing Services (ITS) mendukung sentimen positif ini.
Baca Juga: Dilema Sawit Indonesia: Kejar Ekspor AS Senilai US$19,5 Miliar atau Prioritaskan Energi B50?
Ekspor minyak sawit Malaysia pada Agustus 2025 mencapai 1,42 juta ton, naik 10,22% dibandingkan dengan bulan Juli. Angka ini semakin memperkuat optimisme pasar terhadap permintaan CPO.
(*Red)















