Ia menegaskan pentingnya melestarikan kearifan lokal sebagai identitas daerah dan mengajak seluruh masyarakat mendoakan keselamatan serta keberkahan untuk Kabupaten Ketapang.
Sebagai simbol pelepasan, Bupati juga menyerahkan Daun Andung Berajah Salamun Tujuh kepada penyelenggara.
Usai pelepasan, rombongan Doa Akashah menyusuri sejumlah titik penting di kota Ketapang, mulai dari Pendopo Bupati, Jl. KH. Agus Salim, Bundaran Ale-Ale, Jembatan Pawan 1, Kinjil Pesisir, hingga Makam Keramat Tujuh sebelum kembali ke Pendopo. Perjalanan ini menjadi simbol doa dan kebersamaan masyarakat.
Tradisi Doa Akashah keliling kota diharapkan tidak hanya membawa keberkahan dan keselamatan, tetapi juga mempererat silaturahmi serta menumbuhkan kecintaan terhadap adat, budaya, dan kearifan lokal Melayu.
Baca Juga: Jaga Warisan Leluhur, Bupati Alexander Wilyo Resmi Buka Kejuaraan Menyumpit Patih Jaga Pati Cup 2025
Selain Doa Akashah, rangkaian Semarak Robo-Robo Mandi Safar tahun ini juga menghadirkan Malam Pagelaran Seni Budaya Warisan Melayu serta puncak acara Robo-Robo dan Mandi Safar pada 19–20 Agustus 2025.
(AF)
















