Kreativitas dan kolaborasi sering lahir justru dari keterdesakan.
Model usaha berbasis digital, ekonomi berbagi, atau bisnis komunitas muncul sebagai jawaban dari minimnya modal.
Mereka yang tak bisa membeli ruko, memilih berjualan lewat marketplace; mereka yang tak mampu menyewa kantor, menciptakan ruang kerja bersama.
Refleksi kritisnya: tantangan anak muda bukan hanya soal uang dan izin, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang lebih adil.
Negara perlu memberi jalan dengan regulasi yang sederhana dan akses modal yang inklusif.
Sementara itu, anak muda sendiri harus berani menggeser pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi pencipta lapangan kerja, meski harus memulainya dari ruang yang sempit dan dengan sumber daya yang terbatas.
Karena pada akhirnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan cambuk untuk berinovasi.
Dan di tangan anak muda, keterbatasan bisa bertransformasi menjadi peluang.
Tapi sanggupkah mereka menerima tantangan ini?
Baca Juga: Menjaga Hutan Kalbar, Menjemput Insentif Iklim yang Adil dan Berkelanjutan
Oleh: Mei Purwowidodo
*Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan serta kebijakan redaksi Faktakalbar.id. Seluruh isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
















