Opini  

ANAK MUDA, LAPANGAN KERJA DAN KETERBATASAN AKSES

Mei Purwowidodo
Mei Purwowidodo. Foto: HO/Faktakalbar.id

OPINI – Kita sering mendengar jargon bahwa anak muda adalah agen perubahan.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketika mereka ingin menciptakan lapangan kerja, langkah awalnya seringkali terbentur dua hal mendasar: akses permodalan dan kerumitan perizinan.

Modal seakan menjadi tembok tinggi yang sulit dipanjat.

Baca Juga: MASIHKAH KITA LAPAR?

Bank menuntut agunan, sementara kebanyakan anak muda hanya bermodal tekad dan ide.

Lembaga keuangan alternatif pun belum sepenuhnya ramah terhadap generasi yang masih meraba arah usahanya.

Alhasil, banyak gagasan brilian berhenti di atas kertas, tak pernah sempat tumbuh menjadi kenyataan.

Di sisi lain, perizinan usaha yang seharusnya menjadi pintu masuk legalitas justru terasa bagai labirin.

Meski pemerintah sudah mendorong sistem digital, faktanya masih banyak anak muda di daerah yang kebingungan mengakses dan memahami prosedur.

Akibatnya, mereka sering memilih jalur informal usaha berjalan tanpa legalitas yang membuat mereka sulit mengakses program bantuan dan perlindungan hukum.

Namun, di balik keterbatasan itulah letak kekuatan anak muda diuji.

Kreativitas dan kolaborasi sering lahir justru dari keterdesakan.

Model usaha berbasis digital, ekonomi berbagi, atau bisnis komunitas muncul sebagai jawaban dari minimnya modal.

Baca Juga: Merawat Pancasila, Merawat Kalbar: Refleksi Pelantikan DPD IKAL Kalimantan Barat Masa Bakti 2025–2030

Mereka yang tak bisa membeli ruko, memilih berjualan lewat marketplace; mereka yang tak mampu menyewa kantor, menciptakan ruang kerja bersama.

Refleksi kritisnya: tantangan anak muda bukan hanya soal uang dan izin, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang lebih adil.

Negara perlu memberi jalan dengan regulasi yang sederhana dan akses modal yang inklusif.

Sementara itu, anak muda sendiri harus berani menggeser pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi pencipta lapangan kerja, meski harus memulainya dari ruang yang sempit dan dengan sumber daya yang terbatas.

Karena pada akhirnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan cambuk untuk berinovasi.

Dan di tangan anak muda, keterbatasan bisa bertransformasi menjadi peluang.

Tapi sanggupkah mereka menerima tantangan ini?

Baca Juga: Menjaga Hutan Kalbar, Menjemput Insentif Iklim yang Adil dan Berkelanjutan

Oleh: Mei Purwowidodo

*Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan serta kebijakan redaksi Faktakalbar.id. Seluruh isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.