Anak Putus Sekolah di Pontianak Barat Dibantu Lanjutkan Pendidikan Lewat Program Sekolah Rakyat

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat meninjau rumah keluarga calon siswa Sekolah Rakyat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat meninjau rumah keluarga calon siswa Sekolah Rakyat. Foto: HO/Faktakalbar.id

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas menjadi alasan utama mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan. Intervensi ini tidak hanya mencakup pendidikan anak, tetapi juga perbaikan kondisi hidup keluarga secara menyeluruh.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada lagi anak yang tercecer dari sistem pendidikan karena alasan ekonomi.

“Pagi ini saya meninjau langsung kondisi keluarga di sini. Anaknya akan kita bantu untuk bisa kembali bersekolah melalui Sekolah Rakyat yang ada di Kota Pontianak. Intinya, tidak boleh lagi ada anak putus sekolah di kota ini,” ujar Edi Kamtono usai bertemu dengan orang tua calon siswa.

Tak hanya pendidikan, Edi juga memastikan rumah keluarga tersebut akan direnovasi karena dinilai tidak layak huni, terutama pada bagian sanitasi dan fasilitas dasar yang memprihatinkan.

“Rumahnya juga akan kita bedah. Harapan saya ke depan tidak ada lagi rumah tidak layak huni di Kota Pontianak,” tambahnya.

Ia menyebut, saat ini telah terdata sebanyak 12 anak yang membutuhkan pendidikan alternatif serupa. Untuk itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk proaktif melaporkan jika menemukan kasus serupa.

“Kita harapkan seluruh elemen masyarakat ikut berperan. Bila ada warga yang membutuhkan bantuan, tolong disampaikan kepada pemerintah agar bisa segera ditangani,” tegasnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, Trisnawati, menjelaskan bahwa kedua anak tersebut terpilih untuk mengikuti program Sekolah Rakyat setelah melalui proses verifikasi data dan kondisi riil di lapangan.

“Anak-anak ini masuk dalam kategori masyarakat miskin berdasarkan data desil 1 dan 2 dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Tapi ada juga pertimbangan kondisi riil di lapangan. Bila ditemukan warga dengan situasi yang sangat memprihatinkan, meskipun belum terdata di desil 1 atau 2, akan dilakukan verifikasi agar bisa ikut program ini,” paparnya.

Selain itu, intervensi juga menyasar kondisi orang tua.

Baca Juga: Kemensos Buka 1.554 Formasi Guru Sekolah Rakyat, Pendaftaran Masih Dibuka

Davidi, sang ayah yang bekerja serabutan dan kini menderita stroke ringan, akan dibantu untuk mendapatkan perawatan medis.

“Kami akan koordinasikan dengan Dinas Kesehatan agar Pak Davidi bisa mendapat layanan rehabilitasi, seperti fisioterapi, di samping pengobatan rutin,” pungkas Trisnawati.

(*Red/Prokopim)