Proses penanganan di lokasi tidak hanya berhenti pada pemeriksaan teknis.
Petugas juga memerlukan waktu tambahan untuk membersihkan jalur dari bangkai hewan guna menjamin keselamatan perjalanan selanjutnya.
“Proses pembersihan jalur dari bangkai hewan juga membutuhkan waktu tambahan sebelum perjalanan dapat dilanjutkan untuk memastikan kondisi prasarana sudah kembali steril dari benda asing,” katanya.
Emir juga mengungkapkan bahwa insiden biawak tertabrak Kereta Cepat Whoosh bukanlah yang pertama kali.
Menurut data KCIC, sepanjang semester pertama tahun 2025 saja, telah tercatat sebanyak 10 kali insiden serupa terjadi. Seluruh kejadian tersebut terkonsentrasi di jalur antara Padalarang dan Karawang.
Baca Juga: Belum Ada Koordinasi Indonesia-Brunei-Malaysia Terkait Proyek Kereta Cepat
Lokasi ini diidentifikasi sebagai area yang rawan karena kondisi geografisnya yang menjadi habitat alami bagi berbagai satwa.
“Jalur ini melewati kawasan dengan tutupan vegetasi yang cukup lebat, seperti semak belukar, hutan kecil, dan aliran air terbuka, yang menjadi habitat alami bagi satwa seperti biawak,” tuturnya.
Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi risiko, KCIC telah dan akan terus melakukan berbagai upaya pengamanan.
Salah satunya adalah dengan pemasangan pagar pengaman di sepanjang lintasan rel. KCIC juga berkomitmen untuk terus memperkecil celah-celah yang ada pada pagar untuk mencegah hewan liar masuk ke area berbahaya.
Selain itu, patroli rutin dan pembersihan area semak belukar di sekitar jalur terus digalakkan untuk meminimalisir potensi gangguan di masa mendatang.
Baca Juga: Admin Whoosh Disanksi Usai Replies Twitter Tak Pantas Soal Pemecatan STY
(*Red)
















