Ia berharap dewan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi menjelma sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Menurutnya, tantangan dunia pendidikan modern tidak lagi sebatas persoalan akademik.
Tantangan yang lebih besar adalah membangun ketahanan budaya dan memperkuat jati diri generasi muda di tengah gempuran arus globalisasi yang tak terhindarkan.
“Kami berharap Dewan ini menjadi wadah yang mampu menyerap aspirasi masyarakat, memberikan masukan, serta menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kebijakan pendidikan dan kebudayaan yang berkualitas,” ujarnya.
Harapan senada juga datang dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sri Sujiarti.
Beliau menyambut baik kehadiran pengurus baru dan menilai keberadaan Dewan Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak sangat fundamental untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan budaya yang lebih inklusif serta adaptif terhadap perubahan zaman.
Baca Juga: Sidak SPMB di Pontianak, Wakil Wali Kota Pastikan Tak Ada Praktik Titipan
Sinergi yang kuat menjadi kunci keberhasilan program-program yang akan datang.
“Sinergi antara Dinas dan Dewan Pendidikan dan Kebudayaan sangat kami butuhkan, terutama dalam mengembangkan inovasi pembelajaran, penguatan karakter peserta didik, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang mulai tergerus zaman,” tuturnya.
Lebih lanjut, Sri Sujiarti berharap jajaran dewan yang baru dapat membawa energi dan gagasan segar.
Baca Juga: Festival Tunas Bahasa Ibu 2025 Dorong Pelestarian Bahasa Melayu Pontianak
Ia juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan strategis, agar program yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan dan relevan dengan dinamika sosial yang terus berkembang.
“Keberadaan Dewan Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak menjadi wadah partisipatif yang sangat dibutuhkan, apalagi dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang,” tutupnya.
(*Red/Prokopim)















