Opini  

Jurnalisme Tak Akan Selamat Jika Terus Hidup di Gelembung

Ismail Fahmi berbicara di forum internasional tentang jurnalisme digital dan peran media di era algoritma.

Turun dari Podium, Masuk ke Percakapan

Dunia digital kini dipenuhi ruang-ruang isolasi, atau dalam kata Eli: ghetto. Di sanalah berkembang radikalisme, kebencian, dan kekacauan informasi.

Tapi jurnalis? Masih sibuk tampil di konferensi internasional, memberi ceramah dari podium—bukan dari dalam realitas publik.

We live in a bubble,” katanya. Dan selama jurnalisme terus hidup dalam gelembung elitisme, ia akan gagal dipercaya. Media harus hadir di platform tempat orang-orang muda berbicara.

Kalau tidak, jurnalisme bukan hanya gagal menjangkau, tapi juga gagal dipahami.

Penutup: Jurnalisme Perlu Merendah, Bukan Menyerah

Kita tidak butuh jurnalisme yang menyerah pada clickbait.

Kita butuh jurnalisme yang mau membuang ego, tanpa membuang etika.

Yang memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun dari menara gading, melainkan dari kesediaan untuk mendengar, membuka diri, dan berubah.

Karena kalau tidak, jurnalisme tidak akan selamat.

Oleh: Ismail Fahmi

(Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi. Segala data, analisis, dan interpretasi yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis).