سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ… وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ
Suatu masa akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya… dan pada masa itu ruwaibidhah akan bicara.
Sahabat bertanya, “Siapa ruwaibidhah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab:
الرجل التافه يتكلم في أمر العامة
Orang bodoh yang berbicara tentang urusan umat.
Hadits ini seakan hidup kembali hari ini. Ketika seorang anggota DPR—yang bukan ahli agama, bukan pembina umat, bukan pula bagian dari komunitas keulamaan—tiba-tiba merasa layak menghakimi para kyai, asatidz, dan alumni pesantren yang selama ini dengan ikhlas mengurus jamaah haji dari kampung ke Tanah Haram.
Inilah wajah nyata ruwaibidhah dalam balutan demokrasi modern. Mereka masuk lewat pintu partai, lalu duduk di komisi sakral, dan berbicara dengan penuh percaya diri seolah paham segalanya. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah penghinaan, bukan pembinaan. Tuduhan, bukan solusi.
Baca Juga: Presiden, Pahlawan, atau Tokoh Mitologi yang Mengguncang Nusantara?
Ironi terbesar dari semua ini adalah ketika diskursus haji terus bergejolak karena dilegislasi oleh oknum yang tak punya kompetensi ruhani dan fikih, tetapi justru yang disalahkan adalah KBIHU yang sejatinya adalah penopang sistem itu sendiri. Bukankah ini pengalihan isu paling telanjang?
Kami ingin berkata dengan jernih: Berhentilah mengatur ibadah jika kalian tidak paham agama. Berhentilah mencampuri urusan ruhani jika kalian tak punya sanad keilmuan. Dan berhentilah merasa layak berbicara soal umat jika kalian tidak pernah hidup bersama umat.
Islam dibangun oleh ilmu dan adab, bukan oleh suara bising tanpa dasar. Selama umat masih memuliakan ulama, dan selama KBIHU tetap dijaga oleh orang-orang yang ikhlas, maka kami yakin ruh haji tetap akan hidup karena dibimbing oleh mereka yang paham, bukan oleh mereka yang sok paham atau memaksa orang lain agar paham.
Oleh : Mutawakkil Abu Ramadhan
(Aktivis Dakwah, Pembina Jamaah Haji, Pencinta Ulama)
















