Dalam menangani kasus maag dapat menerapkan terapi non farmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non farmakologi dengan menerapkan pola hidup sehat dimulai dengan diet atau pengaturan makan, hindari makanan pedas, asam dan berlemak, kurangi kopi, teh, softdrink serta sebaiknya konsumsi makanan dengan tekstur lembut (lunak) dan porsi makan sedikit tapi sering.
Sedangkan untuk terapi farmakologi, menurutnya dapat mengkonsumsi antasida, golongan H2 Bloker (ranitidine, cimetidine, famotidine), golongan PPI (esomeprazol, lansoprazol, omeprazol), golongan agen promotilitas (domperidone, metoklopramid), golongan protektan mukosa (sukralfat) dan golongan analog prostaglandin (rebamipide).
Perlu menjadi perhatian juga interaksi obat dengan obat lain atau makanan. Khusus antasid berpengaruh pada penyerapan obat sehingga dapat dikonsumsi 30 menit sebelum makan, sedangkan sukralfat dapat mengikat obat golongan PPI jadi dapat dikonsumsi 2 jam setelah makan.
“Dengan berbagai pilihan pengobatan maag yang ada, penderita dapat meredakan gejalanya dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. Dan jangan lupa untuk konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan pilihan pengobatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.” Tutupnya (rfk/*pkrs-humas/rsudssma)