“Beasiswa itu diberikan agar pelajar sekolah negeri tidak perlu lagi membayar SPP dan nilai SPP sekolah negeri itu seragam. Bagaimana kalau diterapkan ke swasta yang SPP-nya beragam mulai dari Rp 150 ribu hingga jutaan perbulan? Empat puluh ribu lebih pelajarnya itu,” ucapnya.
Husni menilai bahwa para pelajar di sekolah swasta cenderung berasal dari latar belakang keluarga mampu. Para orang tua yang berkecukupan sengaja menyekolahkan anak mereka di sekolah swasta yang tentunya dengan pertimbangan lain, seperti kualitas pendidikan tinggi, penerapan kedisiplinan, dan metode pembelajaran sendiri.
“Kalau sekolah swasta sudah gratis, tentu semua orang pasti ingin anaknya sekolah di swasta semua. Bukan menyelesaikan masalah, tapi justru memunculkan masalah baru. Belum lagi soal pembiayaan yang mungkin menabrak aturan dan lain-lain,” ungkapnya. (mro)
















