Rudi juga menerangkan bahwa sampai saat ini semua stakeholder di Kabupaten Ketapang, seperti BPBD, TNI, Polri, masyarakat, instansi vertikal maupun dinas instansi daerah terus bersinergi dalam rangka menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang.
“Ada beberapa grup, baik itu grup dari Kabupaten Ketapang yang berisi semua stakeholder dan dinas instansi terkait pengendalian karhutla, juga grup-grup di tingkat kecamatan. Artinya ini adalah salah satu bukti nyata bahwa sinergitas pengendalian karhutla di Kabupaten Ketapang, sampai dengan tingkat kecamatan dan desa, sudah terbangun,” terangnya.
Kendala terbesar Manggala Agni adalah luas wilayah yang sangat besar. Kabupaten Ketapang memiliki wilayah yang sangat luas, ditambah lagi wilayah kerja mencakup Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
“Untuk Kabupaten Ketapang sendiri, kami hanya memiliki 45 personil, dengan 15 personil di Kecamatan Kendawangan dan 30 personil di Ketapang. Wilayah yang sangat luas ini meskipun sudah kami petakan sebagai areal rawan karhutla, tetap menjadi tantangan besar,” ucapnya.
Dengan jumlah personil yang terbatas, Manggala Agni Ketapang mendorong kesiapan tim Satgas Masyarakat Peduli Api serta kelompok-kelompok masyarakat di desa agar bisa mandiri dalam pengendalian karhutla.
“Solusi ini sedang diimplementasikan dengan mendorong kesiapan kelompok-kelompok masyarakat ini agar bisa mandiri dalam melakukan kegiatan pengendalian karhutla, mulai dari patroli hingga pemadaman. Kami juga mendorong agar semua desa yang rawan karhutla bisa menganggarkan sendiri melalui anggaran Dana Desa,” tutupnya.(nfl)










