“Saya kira, itulah yang dimaksud dengan makna berdaulat secara budaya. Artinya kita tidak malu, kita bangga dengan adat, budaya, tradisi kita. Kita masih menjaganya, masih memeliharanya, masih mempertahankannya dimanapun dan kapanpun,” tukas Patih Jaga Pati.
Yang kedua, berdaulat secara ekonomi. Artinya wajar ketika seluruh masyarakat Kabupaten Ketapang bisa berdaulat secara ekonomi, bisa menikmati semua kekayaan alam, semua kelimpahan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Apalagi daerah Ketapang yang sangat kaya-raya, sangat subur, ada sawit, ada tambang, ada kayu. Saya pikir wajar kalau masyarakat Kabupaten Ketapang punya keinginan, punya cita-cita masyarakat Ketapang yang sejahtera, masyarakat Ketapang yang lebih maju, selaras dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Ketapang: Ketapang maju dan sejahtera.
Yang ketiga, berdaulat secara politik. Wajar juga bila ada keinginan di masyarakat agar bisa menjadi pemimpin di wilayah sendiri.
“Kalau ini bukan sumpah, tetapi anggap saja cita-cita, harapan, yang mudah-mudahan bisa kita wujudkan kapanpun waktunya,” ujar Patih.
“Dan terakhir, sekali lagi saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinggi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, mendukung, baik berupa tenaga, biaya, waktu dan pikiran untuk seluruh rangkaian acara Menaiki Rumah Agung adalah Jurong Tinggi Balai Kepatihan Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh. Kepada siapapun, termasuk dari IPSI, masyarakat adat Tolak Sekayok, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi, secara khusus kepasa Bapak Bupati Ketapang,” ujar Patih menutup sambutannya.
Bupati Ketapang, Martin Rantan dalam sambutannya mengatakan, kalau melihat ke belakang, melihat sejarahnya ke belakang, Patih Jaga Pati ini, anggap saja Kerajaan Majapahit misalnya. Rajanya Hayam Wuruk. Rajanya Hayam Wuruk itu Pak Petrus Singa Bansa. Tidak bisa dibantah bahwa Pak Petrus Singa Bansa itu adalah rajanya. Sedangkan Maha Patih Gajah Mada itu adalah Alexander Wilyo. Jadi beliau adalah perdana menterinya. Kalau Petrus Singa Bansa adalah rajanya.
“Jadi wajar saja kalau seorang Patih berada di Ketapang ini untuk menyatukan masyarakat atau menyatukan umat-umat yang ada,” ujar Bupati Ketapang.
Untuk itu, beberapa tahun yang lalu Bupati Ketapang sudah menugaskan Sekda sekarang dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk merehab rumah Raja Ulu Air, yang berada di Sengkuang, dan nanti akan diresmikan pada adat Meruba, Juni mendatang. Dananya itu berasal dari hibah Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang.
Bupati Ketapang juga mengisahkan bahwa Raja Hulu Air juga sudah melakukan pembangunan atau penanaman Tugu Tolak Bala sehingga sampai sekarang di Ketapang tidak pernah terjadi konflik etnis.
“Ini karena kita semuanya saling menjaga. Oleh sebab itu, kita mendirikan tugu tolak bala, diprakarsai oleh Pastor Mateus Juli dan Lorensius Majun, Wakil Bupati Ketapang sebagai pemangku Tugu Tolak Bala. Dan saat ini, Tugu Tolak Bala sudah diserahkan kepada Dewan Adat Dayak untuk memeliharanya. Tetapi Raja Hulu Air waktu itu belum punya Patih, belum punya orang yang bisa membantu,” ujar Bupati.
Oleh sebab itu, kata Bupati Martin Rantan, pada satu-dua tahun belakangan ini, tampillah Saudara Alexander Wilyo terpanggil untuk membantu Raja Ulu Air dalam melaksanakan Sumpah Kedaulatan Dayak, yakni berdaulat di bidang budaya, berdaulat di bidang ekonomi, dan berdaulat di bidang politik.
“Dengan dipanggilnya Pak Alex ini menjadi Patih Jaga Pati, maka beliau mengorbankan dirinya, mengorbankan kemampuannya, bahkan mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya untuk mendirikan Balai Kepatihan ini. Untuk itu, saya ucapkan selamat dan sukses kepada Raja Hulu Air dan Patih Jaga Pati atas berdirinya rumah besar jurung tinggi ini,” pungkas Bupati Martin Rantan.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Ketapang mengucapkan terima kasih kepada seluruh paguyuban, yang hari ini bisa datang dengan kompak.
“Pesan saya, mari kita jaga Kabupaten Ketapang ini dengan baik, apalagi, tidak lama lagi kita akan mengadakan pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung. Ketapang ini, hampir semua suku pernah menjadi Bupati Ketapang, kecuali Tionghoa dan Batak. Yang susah pernah yakni dari suku Jawa, dari Melayu, dari suku Madura, sesudah itu ada dari suku Dayak. Artinya, siapapun yang menjadi Bupati Ketapang ini, masyarakat tetap aman, tentram, tidak pernah ada gejolak,” ujar Martin Rantan.
Selain itu, Bupati Ketapang juga berpesan agar dalam Pilkada nanti, siapapun yang terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati nanti, adalah yang terbaik bagi kita untuk Kabupaten Ketapang.
“Walaupun dengan suasana politik yang makin memanas, hendaknya masyarakat bisa menahan diri. Kalau ada hal-hal yang berkaitan dengan etnis, jangan terlalu dikembang terlalu tinggi. Kembalikan kepada keributan itu adalah hal yang berkaitan dengan orang per orang, in person, tidak banyak-banyak orang,” pesan Bupati.
“Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada Raja Hulu Air dan Patihnya. Mudah-mudahan Pak Alex ini dengan bada besar tegap ini bisa menyatukan masyarakat Kabupaten Ketapang, bahkan bisa menyatukan masyarakat di luar Kabupaten Ketapang, Kalteng, Sanggau dan sebagainya. Karena tidak semua orang yang mau terpanggil untuk hal ini,” ujar Bupati Ketapang mengakhiri sambutannya.
Hadir pada acara hari ke-3 peresmian Balai Kepatihan tersebut, antara lain Pj. Bupati Sanggau, Raja Hulu Aik ke-51, Ketua Majelis Raja Matan, keluarga Kerajaan Sukadana, Forkopimda Kabupaten Ketapang, Wakil Ketua DPRD, Ketua Sekberkesda Provinsi Kalimantan Barat, Uskup Keuskupan Ketapang, para pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang, para ketua paguyuban etnis, para tokoh adat.
Hari ke-3 peresmian Balai Kepatihan ini turut dimeriahkan oleh Marion Hendri, seniman ternama dari Kalteng.(nfl)










