Ahli menyebut El Nino berpeluang ‘menggila’ tahun ini. Mereka juga menyebut fenomena pemicu turunnya curah hujan ini kemungkinan besar berlangsung hingga Februari 2024.
Para ahli menyebut fenomena tahun ini dapat mendorong suhu lautan untuk melebihi suhu yang tercatat selama El Nino kuat terakhir pada awal 2016. Demikian seperti dilansir Fakta Kalbar dari cnn.
Laporan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) tentang El Nino mengatakan ada kemungkinan lebih dari 95 persen bahwa kejadian ini akan berlangsung hingga Februari 2024 disertai dengan dampak iklim yang luas.
“Lebih besar dari 95 persen itu peluang yang amat besar! El Nino diperkirakan akan terus berlanjut selama musim dingin di belahan Bumi utara,” tulis NOAA dalam laman resminya.
“Model iklim global kami memperkirakan kondisi lautan Pasifik yang lebih hangat dari rata-rata tidak hanya akan berlangsung selama musim dingin, tetapi juga akan terus meningkat,” lanjutnya.
Para ilmuwan secara resmi mengumumkan terjadinya El Nino pada awal Juni. El Nino adalah peristiwa peningkatan suhu lautan yang biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun di Pasifik tengah dan timur, yang menyebabkan kenaikan suhu udara di seluruh dunia.
Dampak iklim terkuatnya biasanya dirasakan selama musim dingin dan awal musim semi di Belahan Bumi Utara. Dampak fenomena ini membuat lebih banyak hujan dan badai di AS bagian selatan, Amerika Selatan bagian tenggara, Semenanjung Somalia, dan Asia bagian timur.
Di belahan dunia lain, seperti Afrika tenggara dan Indonesia, El Nino menyebabkan kondisi yang lebih kering dan dapat meningkatkan risiko kekeringan.










