Satu Warga Tewas Tertimbun, Tanah Longsor di Mrebet Purbalingga Rusak Tiga Rumah

Lereng bukit longsor menimpa warga dan merusak tiga rumah di wilayah Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah pada Minggu (12/4). Sumber foto: BPBD Kabupaten Purbalingga
Lereng bukit longsor menimpa warga dan merusak tiga rumah di wilayah Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah pada Minggu (12/4). (Dok. BPBD Kabupaten Purbalingga)

Faktakalbar.id, PURBALINGGA – Bencana tanah longsor di Mrebet menelan korban jiwa dan merusak kawasan permukiman warga di wilayah Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, pada Minggu (12/4/2026).

Insiden mematikan ini dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut dalam durasi yang cukup lama, ditambah dengan kondisi struktur tanah perbukitan yang labil dan rawan pergerakan.

Baca Juga: Update Data Bencana BNPB Awal April: Karhutla Ogan Ilir hingga Longsor Deli Serdang

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (13/4/2026), material tanah penahan lereng mendadak ambrol dan langsung menghantam area permukiman yang berada di bawahnya.

Peristiwa nahas ini mengakibatkan tiga unit rumah warga di Kecamatan Mrebet mengalami kerusakan parah akibat tertimbun material lumpur dan bebatuan.

Dampak dari tanah longsor di Mrebet ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga merenggut nyawa. Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat terjebak material longsoran, sementara satu orang lainnya menderita luka ringan.

Bencana hidrometeorologi basah ini tercatat berdampak secara langsung pada 11 jiwa penduduk setempat. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis secara intensif.

Meskipun evakuasi korban jiwa telah dilakukan, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat keamanan, dan relawan terpaksa menunda proses pembersihan material longsor berskala besar.

Keputusan ini diambil karena kondisi tanah di tebing sekitar lokasi kejadian dinilai masih sangat tidak stabil, sehingga akses alat berat maupun petugas evakuasi sangat berisiko memicu longsor susulan.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang OKU Selatan, Tujuh Rumah Warga Rusak Berat

Menyikapi insiden mematikan di Purbalingga, BNPB kembali mengingatkan seluruh masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak meremehkan ancaman cuaca ekstrem selama masa transisi pergantian musim. Curah hujan yang tinggi berpotensi besar merusak daya ikat tanah di area perbukitan.

Warga yang bermukim di lereng tebing atau area perbukitan diimbau untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman apabila hujan deras turun lebih dari dua jam berturut-turut.

Pemerintah daerah juga diinstruksikan untuk segera memantau kawasan rawan bencana secara berkala dan memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal agar risiko jatuhnya korban jiwa dapat ditekan semaksimal mungkin.

(*Red)