“Untuk sebagian besar infrastruktur pengolahan dan distribusi yang rusak, kami dapat memulihkan 70-80 persen dari kapasitas sebelumnya dalam waktu satu hingga dua bulan, dan kemudian dalam jangka menengah hingga panjang, kami dapat memulihkan 100 persen kapasitas seperti sebelum penyerbuan Amerika Serikat-Israel,” ujar Azimifar sebagaimana dikutip dari kantor berita resmi Iran, SNN.
Kerusakan masif pada fasilitas minyak Iran ini merupakan imbas langsung dari agresi militer yang dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel. Tepat pada 28 Februari lalu, armada kedua negara tersebut memulai serangkaian serangan udara ke sejumlah titik target strategis di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Insiden penyerbuan tersebut tidak hanya melumpuhkan infrastruktur vital negara, tetapi juga dilaporkan telah menimbulkan kerusakan luas dan menelan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
Merespons serangan tersebut, militer Iran mengambil langkah balasan yang terukur. Pasukan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah kedaulatan Israel serta sejumlah pangkalan dan fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah. Manuver militer ini ditegaskan oleh otoritas di Teheran sebagai bentuk tindakan pertahanan diri yang sah atas kedaulatan negara mereka.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Waspadai 4 Dampak Nyata bagi Ekonomi Masyarakat Indonesia
Ketegangan yang sempat mengguncang stabilitas geopolitik dan pasar energi global ini akhirnya memasuki masa jeda pada awal April. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan kesepakatan penghentian permusuhan atau gencatan senjata selama dua pekan dengan pihak Iran pada Selasa (7/4/2026).
Momentum jeda pertempuran inilah yang kini dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah Iran untuk mempercepat proses rekonstruksi infrastruktur energi mereka yang terdampak perang.
(*Red)
















