Satu Warga Tewas Tersetrum, Ratusan Rumah Terendam Akibat Banjir di Cepu Blora

Hujan lebat memicu luapan Sungai Ngareng dan menyebabkan banjir di Cepu, Kabupaten Blora
Hujan lebat memicu luapan Sungai Ngareng dan menyebabkan banjir di Cepu, Kabupaten Blora. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, BLORA – Bencana banjir di Cepu menerjang wilayah Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, merendam empat kawasan kelurahan dan satu hamparan desa.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada Jumat (10/4/2026) ini dipicu oleh hujan lebat berdurasi panjang yang mengakibatkan debit air Sungai Ngareng meluap tak terkendali hingga membanjiri area permukiman warga.

Baca Juga: Banjir di Bengkulu Rendam Ribuan Rumah di Berbagai Kecamatan

Tercatat lima wilayah administratif yang terdampak langsung luapan banjir ini meliputi Desa Mulyorejo, Kelurahan Cepu, Kelurahan Balun, Kelurahan Karangboyo, dan Kelurahan Ngelo. Ketinggian muka air yang merendam permukiman bervariasi, berkisar mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai titik terdalam 125 sentimeter.

Dampak material dari banjir di Cepu ini cukup masif. Laporan awal menyebutkan luapan air kotor merendam 150 unit rumah milik warga, memutus sementara akses jalan kelurahan, serta menggenangi dua gedung sekolah dan satu fasilitas umum. Tragedi ini juga menelan korban jiwa. Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat tersetrum aliran listrik saat sedang membersihkan rumah sesaat setelah banjir mulai surut, sementara satu warga lainnya mengalami luka-luka.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora segera diterjunkan ke lokasi kejadian. Proses evakuasi korban ke tempat yang lebih aman sempat menghadapi tantangan berat akibat derasnya arus banjir dan tingginya debit air luapan sungai di jalur evakuasi. Pada Sabtu (11/4/2026), genangan air dilaporkan telah surut secara signifikan, dan warga mulai melakukan pembersihan sisa lumpur secara mandiri.

Insiden luapan air di wilayah Blora ini menambah daftar panjang bencana yang dicatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama akhir pekan. BNPB memperingatkan bahwa ancaman hidrometeorologi belum berakhir, merujuk pada prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 13 hingga 16 April 2026.