Pesona Tato Dayak: Bukan Sekadar Seni Tubuh, Ini Makna Mendalam di Baliknya

"Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, tato bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan simbol identitas, rekam jejak, dan spiritualitas. Kenali makna di balik motifnya."
Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan, tato bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan simbol identitas, rekam jejak, dan spiritualitas. Kenali makna di balik motifnya. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi masyarakat urban modern, tato atau body art sering kali dianggap sebagai bagian dari tren gaya hidup, ekspresi seni, hingga simbol kebebasan.

Namun, jika kita melihat lebih jauh ke pedalaman Kalimantan, tradisi merajah tubuh bagi masyarakat adat Suku Dayak memiliki nilai sakral yang jauh lebih dalam dari sekadar estetika visual.

Dalam tradisi Dayak, tato dikenal dengan istilah Pantang atau Tutang.

Setiap goresan tinta alami yang menempel di kulit adalah buku harian yang mencatat identitas, perjalanan hidup, hingga status sosial seseorang.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Suku Dayak Desa di Sintang: Penjaga Rumah Betang dan Penenun Ulung

Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya tertua yang masih dihormati hingga kini.

Bagi Anda yang penasaran, berikut adalah beberapa makna mendalam di balik tato pada tubuh masyarakat Dayak di Kalimantan:

1. Simbol Kedewasaan dan Petualangan (Bunga Terung)

Salah satu motif tato Dayak yang paling populer adalah Bunga Terung atau bunga terong.

Motif ini biasanya dirajah pada bagian bahu seorang pria Dayak.

Tato ini melambangkan bahwa pria tersebut telah memasuki usia dewasa dan siap untuk merantau (makai) meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pengalaman hidup.

Tinta di bahu tersebut menjadi pengingat layaknya “tas ransel” yang membawa bekal kebijaksanaan selama di perantauan.

2. Penanda Status Sosial dan Keberanian (Rekong)

Pada masa lampau, tidak semua orang Dayak boleh sembarangan memilih motif tato. Ada aturan adat yang mengikat. Misalnya, tato bermotif Rekong yang dirajah di area leher.

Di masa tradisi mengayau (memenggal kepala musuh) masih berlaku, tato leher ini hanya boleh dimiliki oleh panglima perang atau ksatria pemberani yang telah berhasil mengalahkan musuh di medan pertempuran.

Motif ini melambangkan keberanian tingkat tinggi dan status sosial yang dihormati di komunalnya.

3. Perlindungan Spiritual dan Tolak Bala

Tato juga berfungsi sebagai perisai magis bagi pemiliknya.

Masyarakat Dayak meyakini bahwa beberapa motif, seperti kalajengking (Kala), lipan, atau anjing (asu), memiliki energi spiritual yang mampu menangkal roh-roh jahat.

Motif-motif perlindungan ini biasanya diukir di bagian tubuh yang krusial, seperti lengan, dada, atau paha, untuk menjaga sang pemilik dari bahaya fisik maupun gaib saat berada di dalam hutan belantara.

4. Identitas Sub-Suku dan Jejak Silsilah

Kalimantan dihuni oleh ratusan sub-suku Dayak, seperti Iban, Kenyah, Kayan, hingga Taman.

Menariknya, motif tato bisa menjadi “kartu identitas” yang menunjukkan dari mana seseorang berasal.

Variasi bentuk garis, lengkungan, dan penempatan tato di tubuh bisa memberi tahu orang lain mengenai garis keturunan dan identitas komunitas sang pemilik tato tanpa harus saling berkenalan terlebih dahulu.

5. Penerang di Alam Kematian

Dalam spiritualitas lawas masyarakat Dayak, kehidupan tidak berakhir di dunia fana.

Mereka meyakini bahwa setelah meninggal, jiwa manusia akan melakukan perjalanan panjang menuju alam baka (Apau Jinal atau Sebayan).

Di alam kegelapan tersebut, tato diyakini akan berubah menjadi cahaya emas yang terang benderang. Semakin banyak tato yang dimiliki (dengan catatan didapat lewat perbuatan baik dan aturan adat), semakin terang pula jalannya menuju peristirahatan abadi.

Meski kini zaman telah berubah dan sebagian tradisi mulai tergerus modernisasi, tato Dayak tetap bertahan sebagai identitas kebanggaan. Memahami makna di baliknya membuat kita semakin menyadari bahwa budaya Nusantara memiliki filosofi hidup yang sangat indah dan kaya.

Baca Juga: 5 Fakta Unik Suku Dayak Lebang Nado di Kabupaten Sintang yang Jarang Diketahui

(Mira)