Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kalimantan Barat memiliki kekayaan etnis dan budaya yang luar biasa, salah satunya adalah keragaman sub-suku Dayak yang mendiami berbagai pedalaman.
Di Kabupaten Sintang, terdapat satu kelompok masyarakat adat yang memiliki karakteristik, dialek, dan sejarah budaya yang sangat menarik, yakni Suku Dayak Lebang atau yang sering disebut dengan Dayak Lebang Nado.
Masyarakat sub-suku ini memiliki peranan penting dalam menjaga kelestarian alam dan budaya warisan leluhur di Sintang.
Bagi Anda yang menyukai eksplorasi budaya Nusantara, berikut adalah 5 fakta menarik terkait Suku Dayak Lebang Nado yang patut Anda ketahui:
Baca Juga:Â Gariskoyak: Inovasi Game Edukatif untuk Selamatkan Tari Koncong Dayak Salako dari Kepunahan
1. Mitos Asal-Usul dan Percampuran Budaya
Salah satu cerita rakyat atau folklore yang beredar luas mengenai Dayak Lebang Nado adalah kaitan historis mereka dengan pendatang dari Pulau Jawa pada masa lampau (berkisar pada era Kerajaan Singasari).
Diceritakan bahwa ada utusan dari Jawa yang menyusuri Sungai Kapuas hingga ke Sintang dan akhirnya menetap serta menikah dengan penduduk Dayak setempat.
Inilah sebabnya, bahasa daerah yang digunakan oleh Suku Dayak Lebang Nado konon memiliki cengkok atau aksen intonasi yang unik, menyerupai aksen bahasa Jawa, meskipun kosa kata yang digunakan tetaplah bahasa Dayak.
2. Keahlian Tingkat Tinggi dalam Mengukir Kayu
Sebagai warisan dari leluhur, masyarakat Dayak Lebang Nado dikenal luas memiliki keahlian seni kriya atau woodcraft yang sangat mumpuni.
Mereka sangat ahli dalam memahat dan mengukir kayu dengan berbagai motif tradisional.
Hasil ukiran ini tidak hanya terbatas pada hiasan kecil, tetapi diaplikasikan secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari, seperti ukiran pada tiang rumah, peti, lesung penumbuk padi, hingga ukiran khas pada perahu.
3. Wilayah Sebaran yang Luas
Suku Dayak Lebang Nado bukan merupakan kelompok kecil. Berdasarkan data pemetaan adat, sebaran populasi masyarakat sub-suku ini tercatat mendiami sekitar 93 kampung yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sintang.
Beberapa kecamatan yang menjadi wilayah konsentrasi permukiman mereka antara lain adalah Kecamatan Dedai, Kayan Hilir, hingga kawasan di sekitar Bukit Kelam (Kelam Permai).
4. Merawat Tradisi Pertanian Bejopai
Gaya hidup masyarakat Dayak Lebang Nado sangat lekat dengan filosofi gotong royong dan kesetiakawanan sosial. Dalam bidang pertanian, mereka memiliki sebuah tradisi luhur yang disebut Bejopai.
Tradisi ini adalah sistem kerja sama saling membantu antarwarga kampung secara bergantian, terutama saat proses menanam padi di ladang (nugal). Antusiasme Bejopai menjadi bukti bahwa masyarakat adat selalu mengutamakan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi.
5. Gawai Dayak dan Penghormatan pada Duwato Puyanggano
Sama halnya dengan sub-suku Dayak lainnya, Dayak Lebang Nado juga rutin melaksanakan upacara Gawai Dayak (pesta panen) setiap tahunnya.
Dalam sistem kepercayaannya, upacara adat ini merupakan bentuk syukur yang mendalam atas kelimpahan hasil bumi kepada Sang Pengatur Semesta, yang dalam bahasa dan spiritualitas mereka disebut sebagai Duwato Puyanggano.
Gawai bukan sekadar pesta, melainkan ritual sakral untuk menjaga integrasi dan rasa syukur komunitas.
Untuk menjaga agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman, masyarakat Dayak Lebang Nado yang merantau atau tinggal di wilayah perkotaan Sintang juga membentuk sebuah perkumpulan adat bernama Hamo Dirik Lebang Nado (Hadi Ledo).
Wadah inilah yang terus merawat jati diri serta gaya hidup komunal kebanggaan masyarakat Lebang Nado di masa modern.
Baca Juga:Â Gurih dan Wangi! Inilah Fakta Unik Pulut Muda Kuliner Musiman Khas Dayak Kalimantan Barat
(Mira)
















