Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kekayaan budaya di pedalaman Kalimantan Barat selalu menyimpan daya tarik yang tak ada habisnya untuk dieksplorasi.
Di wilayah Kabupaten Sintang, terdapat satu sub-suku yang memegang peranan sangat penting dalam merawat warisan leluhur dan menjaga keseimbangan alam, yakni Suku Dayak Desa.
Bagi Anda yang mencintai gaya hidup lekat dengan pelestarian tradisi, Suku Dayak Desa menawarkan banyak pelajaran berharga tentang kebersamaan dan spiritualitas.
Berikut adalah 5 fakta menarik mengenai Dayak Desa di Sintang yang wajib Anda ketahui:
Baca Juga:Â 5 Fakta Unik Suku Dayak Lebang Nado di Kabupaten Sintang yang Jarang Diketahui
1. Pewaris Rumah Betang Ensaid Panjang
Salah satu identitas paling ikonik dari Dayak Desa di Sintang adalah keberadaan Rumah Betang Ensaid Panjang di Kecamatan Kelam Permai.
Rumah panjang tradisional ini bukan sekadar bangunan kayu bernilai historis, melainkan simbol filosofi hidup komunal masyarakat Dayak Desa.
Di rumah yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga ini, nilai-nilai kekeluargaan, kesederhanaan, dan kerukunan dijaga dengan sangat ketat. Berbagi kehidupan di bawah satu atap yang sama melatih mereka untuk memiliki rasa empati dan toleransi yang tinggi.
2. Pencipta Mahakarya Tenun Ikat Sintang
Jika Anda pernah mengagumi keindahan motif kain tenun ikat dari Sintang, Anda harus berterima kasih kepada para perempuan Dayak Desa.
Menenun merupakan keahlian turun-temurun yang dilakukan oleh kaum ibu dan remaja putri Dayak Desa, terutama untuk mengisi waktu luang setelah berladang.
Motif tenun yang dihasilkan sangat sarat akan makna filosofis dan terinspirasi dari alam, flora, fauna, hingga cerita mitologi. Mahakarya tenun ini bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda berskala nasional.
3. Merawat Tradisi Gotong Royong Beduruk
Masyarakat Dayak Desa sangat bergantung pada sektor agraris atau pertanian. Dalam mengelola ladang, mereka pantang bekerja secara individualis.
Mereka memiliki tradisi Beduruk, yakni sistem kerja sama atau gotong royong antarwarga secara bergantian.
Tradisi ini dilakukan mulai dari proses membersihkan lahan, menebas, membakar, hingga menanam benih padi (menugal).
Lewat Beduruk, beban kerja yang berat menjadi terasa ringan karena dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
4. Kepercayaan Kepada Petara Raja Juwata
Dalam sistem spiritualitas dan kepercayaan tradisionalnya, masyarakat Dayak Desa sangat meyakini keberadaan wujud tertinggi penguasa alam semesta yang disebut dengan Petara Raja Juwata.
Ia dipercaya sebagai sang pemberi napas kehidupan yang menjaga keselamatan dan kelangsungan hidup manusia.
Bentuk syukur masyarakat kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah biasanya diwujudkan dalam pesta panen raya atau yang lebih dikenal dengan upacara adat Gawai Dayak.
5. Seni Tutur Bedudu yang Penuh Nasihat
Suku Dayak Desa juga kaya akan seni sastra lisan, salah satunya adalah seni tutur Bedudu.
Ini merupakan tradisi lisan berirama yang biasa dilantunkan dalam acara pergaulan adat atau saat menidurkan anak.
Lirik-lirik dalam Bedudu mengandung petuah, sejarah, dan nilai moral dari leluhur.
Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi hiburan modern, seni tutur warisan budaya ini mulai jarang dimainkan dan nyaris tergerus oleh zaman.
Mengenal Suku Dayak Desa bukan sekadar mengetahui sejarah, melainkan memahami bagaimana harmonisasi antara manusia, alam, dan nilai-nilai luhur dapat terus bertahan di tengah derasnya arus modernisasi.
Kekayaan budaya mereka adalah harta karun Nusantara yang patut kita apresiasi dan lestarikan bersama.
Baca Juga:Â Gariskoyak: Inovasi Game Edukatif untuk Selamatkan Tari Koncong Dayak Salako dari Kepunahan
(Mira)
















