Lifestyle  

Kenapa Saat Bahagia Kita Cenderung Lapar Terus? Ini Penjelasan Ilmiahnya

"Pernahkah Anda menyadari bahwa saat suasana hati sedang sangat gembira, perut terasa ingin terus mengunyah? Ketahui kaitan antara perasaan bahagia dengan meningkatnya nafsu makan."
Pernahkah Anda menyadari bahwa saat suasana hati sedang sangat gembira, perut terasa ingin terus mengunyah? Ketahui kaitan antara perasaan bahagia dengan meningkatnya nafsu makan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda menyadari sebuah siklus unik dalam diri Anda? Saat sedang bersedih atau stres berat, nafsu makan biasanya akan menurun drastis.

Sebaliknya, ketika suasana hati sedang sangat gembira, entah karena baru saja mendapat kabar baik atau sedang menikmati liburan, bawaannya justru ingin terus mengunyah dan makan enak.

Perut seolah memiliki ruang ekstra untuk menampung berbagai camilan.

Fenomena ini rupanya bukan sekadar kebetulan belaka. Ada penjelasan ilmiah dan psikologis di balik alasan mengapa kebahagiaan sering kali membuat kita merasa lapar terus-menerus.

Baca Juga: Memanjakan Lidah di Negeri Bertuah, Ini 4 Makanan Khas Kayong Utara yang Wajib Dicoba

Pertama, hal ini berkaitan erat dengan hormon kebahagiaan di dalam otak kita, terutama dopamin. Ketika kita merasa senang, otak melepaskan banyak hormon dopamin.

Otak kita secara alami memiliki reward system atau sistem penghargaan yang mengaitkan perasaan bahagia dengan hal-hal yang menyenangkan lainnya, termasuk makanan lezat.

Akibatnya, saat bahagia, otak mengirimkan sinyal agar kita mencari dorongan dopamin tambahan lewat makanan manis, gurih, atau makanan favorit kita yang lain. Sensasi craving inilah yang membuat kita terus merasa lapar secara psikologis.

Kedua, kebahagiaan membuat tubuh kita masuk ke dalam mode rileks. Saat kita stres, tubuh mengaktifkan respons fight or flight (lawan atau lari) yang menekan fungsi pencernaan.

Sebaliknya, saat kita bahagia dan santai, sistem saraf parasimpatik mengambil alih.

Sistem ini sering disebut sebagai mode rest and digest (istirahat dan cerna). Dalam kondisi ini, sistem pencernaan bekerja sangat optimal, sehingga perut terasa lebih cepat kosong dan siap menerima asupan kalori baru.

Selain faktor biologis, alasan sosial juga memegang peranan penting. Perasaan bahagia biasanya identik dengan perayaan. Saat suasana hati sedang baik, kita cenderung ingin melakukan hangout atau menghabiskan quality time bersama keluarga dan teman-teman. Di tengah budaya masyarakat kita, momen berkumpul hampir selalu berpusat pada meja makan.

Kebiasaan sosial inilah yang melatih otak kita untuk selalu mengaitkan rasa bahagia dengan aktivitas makan besar.

Merasa lapar dan ingin menikmati makanan saat sedang bahagia adalah respons tubuh yang sangat wajar.

Namun, pastikan Anda tetap mengontrol porsi dan jenis makanan yang masuk. Terapkan mindful eating atau kesadaran penuh saat makan agar kebahagiaan Anda tidak berujung pada naiknya berat badan secara berlebihan atau memicu masalah kesehatan di kemudian hari.

Baca Juga: Dikejar Target Tapi Tak Lapar? Ini 5 Alasan Kenapa Kita Malas Makan Saat Sibuk Kejar Deadline

(Mira)