Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Raksasa ritel busana global, H&M, mengambil langkah drastis dengan berencana menutup 160 tokonya secara permanen di seluruh dunia pada tahun 2026. Keputusan besar ini menandai pergeseran strategi perusahaan yang kini lebih memprioritaskan kekuatan e-commerce daripada toko fisik.
Manajemen H&M menjalankan kebijakan ini untuk mengoptimalkan portofolio toko unggulan mereka di lokasi-lokasi strategis.
Langkah penutupan massal tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan mencatat keuntungan yang lebih tinggi di tengah perubahan perilaku konsumen global.
Perusahaan mengakui bahwa proses pembangunan kembali dan penutupan toko sempat memberikan dampak negatif pada penjualan kuartal pertama tahun 2026.
Namun, H&M memprediksi hasil positif dari optimalisasi ini akan mulai terlihat sepanjang sisa tahun berjalan seiring berkurangnya beban biaya karyawan.
Konsumen Kini Lebih Suka Belanja Daring
Pakar industri menilai penutupan ratusan toko ini sebagai respons nyata terhadap tren belanja masyarakat modern. Konsumen saat ini lebih berorientasi pada nilai produk dan menunjukkan loyalitas yang rendah terhadap toko fisik tradisional.
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa sektor belanja daring kini menyumbang 30 persen dari total pendapatan H&M secara global. Angka yang terus tumbuh ini mendorong perusahaan untuk memperkuat investasi pada platform digital dan sistem pengiriman guna memanjakan para pembeli setianya.













