Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam dunia jurnalistik dan komunikasi sehari-hari, detail kecil sering kali memiliki makna yang mendalam. Salah satu yang paling krusial namun sering terabaikan adalah penggunaan huruf kapital pada kata “Tuli”.
Mungkin terdengar sepele, namun bagi komunitasnya, perbedaan antara “Tuli” dengan huruf besar dan “tuli” dengan huruf kecil adalah soal identitas dan penghormatan.
Sebagai penulis atau pembaca yang inklusif, memahami perbedaan ini adalah langkah awal untuk berhenti menjadi pendiskriminasi tanpa sadar.
Berikut adalah alasan mengapa pembedaan ini sangat penting:
Baca Juga: Tepelima Kalbar ke-7: Mempererat Lintas Iman Melalui Isu Lingkungan dan Ruang Inklusif
1. “Tuli” sebagai Identitas Budaya
Penggunaan huruf kapital “T” pada kata Tuli merujuk pada identitas budaya dan komunitas.
Mereka yang mengidentifikasi diri sebagai Tuli (dengan T besar) merasa memiliki bahasa, norma, dan warisan budaya sendiri, yaitu Bahasa Isyarat.
Bagi mereka, menjadi Tuli bukanlah sebuah kekurangan medis yang harus diperbaiki, melainkan sebuah identitas kebanggaan, layaknya kita menuliskan identitas suku atau bangsa.
2. “tuli” dari Sudut Pandang Medis
Sebaliknya, penulisan tuli dengan huruf kecil biasanya merujuk pada kondisi fisiologis atau medis terkait gangguan pendengaran.
Dalam konteks ini, fokusnya adalah pada fungsi pendengaran yang hilang.
Penggunaan huruf kecil ini sering kali diasosiasikan dengan pandangan bahwa kondisi tersebut adalah “penyakit” yang perlu disembuhkan, yang bagi banyak anggota komunitas dianggap kurang sensitif terhadap keberadaan mereka sebagai manusia yang utuh.
3. Menghindari Stigma “Tunarungu”
Banyak orang menganggap istilah “tunarungu” lebih sopan, padahal komunitas Tuli justru lebih nyaman dengan sebutan Tuli.
Istilah “tuna” bermakna rusak atau kurang, yang memperkuat stigma bahwa mereka adalah individu yang tidak sempurna.
Dengan menggunakan kata Tuli, kita mengakui eksistensi mereka sebagai kelompok masyarakat yang memiliki cara berkomunikasi yang berbeda, namun setara.
















