Faktakalbar.id, SEKADAU – Kondisi infrastruktur jembatan di Belitang Hulu, tepatnya yang berlokasi di Desa Sungai Antu Hulu, Kecamatan Belitang Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, kian memprihatinkan.
Hingga Selasa (7/4/2026), fasilitas publik yang menjadi akses utama mobilitas masyarakat setempat tersebut dilaporkan rusak parah dan belum pernah tersentuh program perbaikan dari instansi pemerintah terkait sejak beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Bertaruh Nyawa, Siswa di Mempawah Terpaksa Seberangi Sungai Akibat Jembatan Rusak
Merespons kerusakan yang tak kunjung mendapat penanganan resmi, warga setempat terpaksa turun tangan secara mandiri.
Masyarakat desa secara rutin bergotong royong mengumpulkan material kayu seadanya dan melakukan perbaikan darurat guna mempertahankan fungsi dasar jembatan agar tetap dapat dilalui oleh kendaraan bermotor.
Upaya swadaya masyarakat ini dilakukan semata-mata demi menjaga akses utama yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian desa tetap terbuka dan tidak terputus total.
Keberadaan infrastruktur jembatan di Belitang Hulu ini diketahui memiliki peran yang sangat krusial sebagai jalur logistik dan transportasi harian.
Mayoritas penduduk setempat yang berprofesi sebagai pekebun sangat mengandalkan jembatan penghubung ini untuk mengangkut hasil panen pertanian, khususnya Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit serta berbagai komoditas hasil alam lainnya menuju pabrik pengolahan maupun pusat perdagangan di tingkat kecamatan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi struktur bangunan jembatan yang kian memburuk dan hanya ditambal sulam membuat kelancaran aktivitas warga menjadi sangat terganggu.
Selain menghambat laju distribusi hasil bumi yang secara langsung berdampak pada menurunya pendapatan para petani, kondisi fisik jembatan kayu yang lapuk dan tidak stabil ini juga berisiko tinggi membahayakan keselamatan nyawa pengendara yang nekat melintas setiap harinya.
Menghadapi krisis kelayakan infrastruktur tersebut, masyarakat setempat, khususnya yang bermukim di wilayah Uncak Hulu, mendesak adanya perhatian serius dan campur tangan langsung dari Pemerintah Kabupaten Sekadau beserta jajaran instansi teknis terkait. Mereka meminta agar jeritan warga pelosok terkait akses transportasi didengarkan.
















