4. Kurangnya Konteks Budaya dan Lokalitas
AI sering kali gagal menangkap nuansa budaya atau idiom lokal yang spesifik.
Di Kalimantan Barat, misalnya, ada sentuhan bahasa atau istilah daerah yang bisa membuat berita terasa lebih dekat dengan warga.
AI cenderung menggunakan bahasa “global” yang generik. Akibatnya, tulisan tersebut kehilangan relevansi emosional dengan komunitas pembaca lokal yang dituju.
5. Tidak Ada Intuisi dan Pemikiran Kritis
Menulis berita bukan sekadar merangkum informasi, tetapi juga menganalisis dan mempertanyakan fakta.
Manusia memiliki intuisi untuk merasakan adanya kejanggalan dalam sebuah pernyataan narasumber.
AI tidak memiliki kesadaran moral atau common sense. Ia hanya mengikuti instruksi, sehingga sering kali gagal memberikan sudut pandang (angle) yang tajam dan reflektif yang biasanya menjadi kekuatan utama sebuah karya jurnalistik.
Baca Juga: “UU Pidana Jangan Ganggu Kemerdekaan Pers dan Kriminalisasi Karya Jurnalistik”
(Mira)
















