OPINI – Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, kita sering keliru membaca arah zaman. Kita mengira sedang menghadapi satu krisis, padahal realitasnya jauh lebih kompleks. Dunia hari ini diguncang oleh apa yang disebut sebagai triple disruption tiga gelombang perubahan besar yang datang bersamaan: disrupsi perdagangan global dan energi, disrupsi iklim, serta disrupsi teknologi.
Tiga disrupsi ini bukan sekadar isu global yang jauh dari kehidupan kita. Ia sudah hadir di depan mata, memengaruhi harga pangan, biaya transportasi, hingga masa depan pekerjaan generasi muda. Bagi Kalimantan Barat, ini bukan sekadar ancaman, melainkan momentum strategis untuk melakukan reposisi besar dalam pembangunan daerah. Pertanyaannya: apakah kita hanya menjadi penonton, atau justru pemain utama dalam lanskap baru ini?
Baca Juga: Ketika Peradaban Runtuh: Pelajaran Sunyi Surah Saba’ 1-54 untuk Generasi Digital
Disrupsi Pertama: Energi Mahal dan Perdagangan yang Terguncang
Krisis geopolitik global telah mengguncang jalur perdagangan internasional. Ketegangan kawasan, gangguan pelayaran, hingga fragmentasi ekonomi global membuat biaya logistik melonjak tajam. Dampaknya langsung terasa: harga energi naik, biaya produksi meningkat, dan inflasi menekan daya beli masyarakat.
Selama ini kita masih bergantung pada energi fosil. Ketika harga minyak dunia naik, tekanan ekonomi ikut meningkat. Namun Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk keluar dari kondisi ini. Kita memiliki biomassa, limbah sawit, kayu energi, bahkan potensi uranium dan thorium. Ini adalah fondasi menuju energy sovereignty.
Bayangkan jika 14 kabupaten/kota di Kalbar membangun energi berbasis potensi lokal. Ketapang dan Sintang dengan biomassa, Kubu Raya dengan bioenergi, Sambas dan Bengkayang dengan potensi pesisir. Disrupsi global justru membuka peluang Kalbar menjadi net energy producer.
Baca Juga: Sentil Paradoks Ekonomi, Krisantus ke HIPMI: Jangan Sampai Kalbar Bak ‘Tikus Mati di Lumbung Padi’
Disrupsi Kedua: Iklim yang Tidak Lagi Bersahabat
Perubahan iklim bukan lagi isu masa depan. Fenomena El Nino menyebabkan suhu meningkat, hujan berkurang, dan risiko gagal panen meningkat. Dampaknya langsung pada pangan dan ekonomi. Kalimantan Barat berada di garis depan krisis ini. Namun di balik itu, terdapat kekuatan besar berupa natural capital.
Lebih dari 2,7 juta hektare gambut dan luas perhutanan sosial menjadi aset ekonomi karbon global. Jika dikelola dengan baik, Kalbar dapat menjadi pusat ekonomi hijau melalui restorasi gambut, perlindungan hutan, pengelolaan mangrove, dan agroforestry berbasis masyarakat.
Integrasi pangan dan lingkungan menjadi kunci. Produksi tidak boleh merusak ekosistem. Kapuas Hulu, Melawi, dan Landak memiliki peluang besar dalam sistem pangan berbasis lanskap. Kalbar tidak hanya bertahan, tetapi bisa berkontribusi pada FOLU Net Sink 2030.
Disrupsi Ketiga: Teknologi yang Mengubah Segalanya
Teknologi seperti artificial intelligence dan otomatisasi mengubah struktur pekerjaan. Banyak pekerjaan lama hilang, tetapi muncul pekerjaan baru. Ini tantangan sekaligus peluang. Teknologi dapat memperkuat sektor unggulan Kalbar: digitalisasi rantai pasok, monitoring hutan berbasis AI, perdagangan karbon digital, dan smart agriculture. Kunci utama adalah SDM adaptif. Perguruan tinggi harus menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan.
















