Faktakalbar.id, DHAKA — Wabah campak yang melanda Bangladesh sepanjang tahun 2026 telah merenggut nyawa sedikitnya 38 anak.
Kementerian Kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa mayoritas korban meninggal dunia berada dalam kondisi belum mendapatkan vaksinasi, dengan total kasus terkonfirmasi mencapai 674 di seluruh negeri.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi otoritas kesehatan, terutama karena sepertiga dari kasus yang ditemukan menyerang bayi di bawah usia sembilan bulan.
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Bangladesh memutuskan untuk menurunkan usia minimal vaksinasi campak dari sembilan bulan menjadi enam bulan.
Baca Juga: Waspada, 8 Persen Kasus Campak di Indonesia Kini Serang Kelompok Dewasa
Direktur Unit Pengendalian Penyakit di Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Halimur Rashid, menjelaskan bahwa percepatan imunisasi ini bertujuan untuk melindungi kelompok usia yang paling rentan terhadap komplikasi.
“Saat ini, anak-anak menerima dosis pertama vaksin campak pada usia sembilan bulan dan dosis kedua pada usia 15 bulan. Namun, dalam kampanye ini, anak-anak berusia enam bulan hingga 10 tahun akan divaksinasi,” ujar Halimur Rashid, Senin (6/4/2026).
Penyakit campak dikenal sebagai infeksi virus yang menyebar sangat cepat melalui percikan air liur saat bernapas, batuk, atau bersin.
Selain ruam khas pada wajah dan tubuh, virus ini sangat berbahaya bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi karena dapat memicu komplikasi fatal seperti pneumonia dan ensefalitis (peradangan otak).
Program imunisasi nasional dijadwalkan mulai berjalan pada hari Minggu, dengan prioritas di wilayah perkotaan padat penduduk dan daerah berisiko tinggi, seperti wilayah Rajshahi di bagian barat laut.
Pengawasan dan pelacakan kasus terus ditingkatkan guna memutus rantai penularan.
Otoritas kesehatan kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya kelengkapan dosis vaksin.
Bagi ibu hamil, infeksi campak juga membawa risiko tinggi yang dapat menyebabkan keguguran hingga kelahiran prematur.
Vaksinasi tetap menjadi satu-satunya cara paling efektif untuk melindungi populasi dari ancaman wabah mematikan ini.
Baca Juga: Tren Kasus Campak di Indonesia Mulai Turun, Kemenkes Beberkan Faktor Pemicunya
(Mira)











