OPINI – Pagi itu, selepas subuh, secangkir kopi Liberika mengepul pelan di beranda masjid. Obrolan ringan jamaah tentang harga, politik, dan masa depan tiba-tiba mengendap menjadi satu pertanyaan sunyi: ke mana sebenarnya arah (peradaban) kita?
Di tangan, ponsel terus bergetar—(informasi), (opini), (notifikasi), semuanya datang tanpa jeda. Dunia terasa semakin cepat, semakin canggih. Namun di dalam dada, ada sesuatu yang terasa kosong. Sebuah paradoks yang tidak bisa dijelaskan oleh (teknologi).
Baca Juga: Syawal, Secangkir Liberika, dan Keheningan yang Menghidupkan
Di titik inilah, (Surah Saba’) hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai cermin. Ia berbicara tentang satu hal yang sering diabaikan manusia modern: (peradaban) bisa runtuh bukan karena kekurangan (teknologi), tetapi karena kehilangan (makna) dan (syukur).
(Reset Kesadaran: Siapa yang Sebenarnya Memiliki?)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ
Al-ḥamdu lillāhi alladzī lahu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ
(Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan di bumi)
Ayat ini adalah (reset mindset). Ia menghancurkan ilusi paling besar manusia modern: (kepemilikan).
Hari ini kita merasa memiliki segalanya—(akun), (aset), (jabatan), bahkan (pengaruh). Kita membangun identitas dari apa yang kita genggam. Padahal dalam perspektif (tauhid), manusia hanyalah (pengelola sementara).
Baca Juga: Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulfitri
Ketika kesadaran ini hilang, lahirlah penyakit paling halus dalam peradaban: (kesombongan struktural). Sebuah kondisi ketika manusia tidak lagi merasa bergantung kepada Tuhan.
Dan sejarah selalu berakhir sama bagi peradaban seperti ini.
(Ilusi Kontrol di Dunia yang Serba Digital)
Surah Saba’ menegaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu—yang masuk ke bumi, yang keluar darinya, yang turun dari langit, dan yang naik kembali.
Ini adalah konsep (big data ilahi) yang tidak memiliki celah.
Namun ironisnya, manusia hari ini justru merasa paling berkuasa. Dengan satu (klik), dunia terbuka. Dengan satu (unggahan), opini bisa dibentuk. Dengan satu (algoritma), persepsi bisa diarahkan.
(Gen Z) dan (Alpha) hidup dalam dunia yang hiper-transparan secara digital, tetapi sering kali kehilangan transparansi secara moral.
Apa yang kita (scroll), (lihat), bahkan (niatkan), tidak pernah benar-benar tersembunyi.
Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun satu hal yang hilang: (akuntabilitas batin).
(Ilmu Tanpa Syukur: Awal Kehancuran)
Baca Juga: Sujud di Era Digital: Menemukan Makna Hidup dari Surah As-Sajdah
Surah ini menghadirkan dua figur besar: (Nabi Dawud) dan (Nabi Sulaiman). Mereka diberi (teknologi), (kekuasaan), bahkan akses terhadap hal-hal yang melampaui manusia biasa.
Namun Al-Qur’an tidak menonjolkan kehebatan mereka, melainkan satu pesan sederhana:
ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًۭا
I‘malū āla Dāwūda syukrā
(Bekerjalah sebagai bentuk syukur)
Di sinilah letak pembeda antara peradaban yang bertahan dan yang runtuh.
Hari ini kita melihat (inovasi) berkembang pesat. Namun tanpa (syukur), inovasi hanya melahirkan (kelelahan kolektif). Kita terjebak dalam siklus (produksi–konsumsi–kehilangan makna).
Tidak heran jika:
(kecemasan) meningkat
(depresi) meluas
(kehampaan) menjadi fenomena global
Kemajuan tanpa makna adalah kehancuran yang ditunda.
(Saba’: Ketika Peradaban Hebat Gagal Bertahan)
Kaum (Saba’) adalah simbol (peradaban maju):
(infrastruktur) kuat
(ekonomi) stabil
(lingkungan) subur
Allah menggambarkan:
كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌۭ طَيِّبَةٌۭ وَرَبٌّ غَفُورٌۭ
Kulū mir rizqi rabbikum wasykurū lah, baldhatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr
(Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun)
Namun mereka gagal pada satu hal paling mendasar: (bersyukur).
Akibatnya:
(bendungan) runtuh
(ekosistem) hancur
(peradaban) tercerai-berai
Ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ini adalah (warning system) bagi dunia hari ini.
Apa yang kita sebut:
(deforestasi)
(krisis air)
(perubahan iklim)











