Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda merasa gerah yang luar biasa, kulit terasa lengket, dan udara seolah tidak bergerak tepat sebelum hujan turun? Fenomena ini sering kali membuat kita bertanya-tanya, bukankah seharusnya air hujan membawa kesejukan? Namun, yang terjadi justru sebaliknya, suhu udara terasa meningkat dan membuat kita mandi keringat.
Secara ilmiah, kondisi ini bukanlah perasaan semata, melainkan hasil dari proses fisika dan meteorologi yang terjadi di atmosfer kita. Berikut adalah alasan kenapa saat sebelum hujan udara justru rasanya panas:
1. Pelepasan Panas Laten (Latent Heat)
Penyebab utama dari rasa gerah ini adalah proses pembentukan awan itu sendiri.
Baca Juga: Terasa Sangat Terik, Ini Alasan Kenapa Tetap Ada Hujan Saat Kekeringan El Nino di Katulistiwa
Ketika uap air di udara berubah menjadi butiran air (kondensasi) untuk membentuk awan mendung, terjadi pelepasan energi panas ke lingkungan. Dalam ilmu fisika, proses ini disebut pelepasan panas laten.
Panas yang dilepaskan ke udara inilah yang membuat suhu di sekitar kita terasa lebih hangat dari biasanya.
2. Tingginya Kelembapan Udara (Humidity)
Sebelum hujan, kadar uap air di udara sangatlah tinggi.
Tingginya kelembapan ini menghambat proses penguapan keringat dari pori-pori kulit kita.
Karena keringat tidak bisa menguap dengan cepat ke udara yang sudah “kenyang” air, sistem pendingin alami tubuh kita terganggu.
Akibatnya, panas tubuh terperangkap dan kita merasa jauh lebih gerah atau sumuk dalam istilah lokal.
3. Efek Rumah Kaca dari Awan Mendung
Awan cumulonimbus yang tebal dan hitam di langit bertindak layaknya selimut raksasa.
Awan ini memerangkap panas matahari yang telah diserap oleh bumi agar tidak terpantul kembali ke luar angkasa.
Radiasi panas ini memantul kembali ke permukaan bumi, menciptakan efek pemanasan lokal di bawah awan tersebut tepat sebelum butiran hujan jatuh membasahi tanah.
















