“Selesaikan dulu masalah yang ada, jadi harus kontingensi ya atau mitigasi yang pemerintah lakukan terencana, bukan ujung-ujung tersandung baru tengadah, kata Melayu Pontianak bilang nda mikir dulu. Ini kan enggak ada perencanaan, main kerja semau-mau mereka jak itu tak memperhatikan kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Ia mendesak agar pemerintah segera menetapkan prioritas utama, yakni menyelesaikan simpul kemacetan di daerah seberang dengan mempercepat pembangunan jembatan sebagai solusi permanen untuk kendaraan bertonase besar seperti truk tronton.
“Jangan mereka cuma duduk manis cuma ngomong ambil tindakan selesai urusan, tapi mereka harus betul-betul memperhatikan ini jangan sampai masyarakat apatis terhadap pemerintahan kota ini. Pejabat-pejabat yang ada kita pertanyakan, punya kemampuan enggak sih, punya kapasitas enggak sih,” tukas Syarif.
Ia berharap pemimpin kota lebih jeli memilih orang-orang kompeten di bidangnya agar rencana aksi yang disusun tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu melihat kebutuhan transportasi jauh ke depan, termasuk mengaktifkan kembali transportasi sungai sebagai alternatif utama.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Feri Bardan–Siantan, Bermula dari Rakit Bambu Sejak Tahun 1932
(Mira)
















