Faktakalbar.id, KUBU RAYA — Ancaman krisis iklim yang menyentuh ruang domestik dan produktif masyarakat pedesaan menuntut adanya strategi adaptasi yang lebih kuat.
Merespons hal tersebut, lembaga Gemawan menggelar workshop dan uji coba modul bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda dalam Membangun Ketangguhan Komunitas Terhadap Krisis Iklim” di Aula Kantor Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, 30–31 Maret 2026.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 30 hingga 40 perempuan muda dari berbagai latar belakang, mulai dari siswi SMKN 1 Sungai Kakap, MAN 1 Kubu Raya, hingga kelompok perempuan dampingan Gemawan dari Desa Punggur Besar dan Punggur Kecil.
Fokus utamanya adalah membekali generasi muda agar mampu mengambil peran kepemimpinan dalam menjaga ekosistem lokal yang kian terancam cuaca ekstrem.
Baca Juga: Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi
Kepala Desa Punggur Kecil, Adi Kusumajaya, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda sangat krusial sebagai pewaris masa depan lingkungan. Ia berharap kegiatan ini melahirkan aksi nyata di tingkat tapak.
“Agenda seperti ini sangat krusial untuk menumbuhkan pengetahuan dan semangat orang muda. Kita butuh generasi yang tidak hanya sadar, tapi juga peduli dan beraksi terhadap isu krisis iklim. Saya berharap melalui workshop ini lahir gagasan-gagasan segar dari perempuan muda untuk membantu desa yang lebih tangguh,” ujar Adi Kusumajaya, Senin (30/3/2026).
Dalam diskusi kelompok terfokus (FGD), terungkap fakta mengenai ketidakadilan gender saat bencana iklim terjadi. Para peserta menyuarakan bahwa perempuan sering memikul beban ganda. Ketika banjir atau cuaca ekstrem melanda, perempuan harus berjibaku menyelamatkan urusan rumah tangga dan pangan, sementara laki-laki lebih fokus pada pekerjaan luar ruang.
“Banyak pakaian menumpuk tidak kering karena hujan, hasil panen menurun, sementara urusan rumah tangga tetap harus selesai. Ini yang kami rasakan sebagai beban ganda saat musim yang sulit,” ungkap Juliana, salah satu peserta forum diskusi.
Selain beban kerja, ketimpangan ekonomi juga menjadi sorotan. Di wilayah Punggur, ditemukan perbedaan upah buruh tani di mana laki-laki dibayar Rp 70.000 sementara perempuan hanya Rp 40.000 untuk durasi kerja yang sama.
Peneliti Dati Fatimah yang memaparkan riset Gemawan menekankan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar jabatan formal, melainkan kemampuan mengorganisir komunitas demi kebijakan yang responsif gender. Hal ini disadari betul oleh peserta muda seperti Nazela.
















