Ketika Sistem Dunia Dipertanyakan
Di akhir video, simbol-simbol besar dunia—kapal induk, Gedung Putih, bahkan PBB—digambarkan runtuh. Ini bukan sekadar efek visual. Ini adalah pesan ideologis: bahwa sistem global telah gagal.
Jika pesan ini diterima tanpa kritik, maka yang terjadi adalah delegitimasi. Diplomasi dianggap tidak berguna. Hukum internasional dipandang tidak adil. Dan ketika kepercayaan pada sistem runtuh, maka ruang kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang lain—sering kali, oleh kekerasan.
Kita Sedang Berada di Medan Perang yang Berbeda
Perang hari ini tidak selalu dimulai dengan senjata. Ia bisa dimulai dari layar, dari video tiga menit, dari narasi yang disusun dengan rapi.
Ini adalah cognitive warfare—di mana yang diperebutkan bukan wilayah, tetapi cara kita melihat dunia.
Dan dalam perang ini, setiap kita adalah target.
Menjaga Nalar di Tengah Bisingnya Dunia
Menyeruput koptagul liberika di tengah riuhnya informasi global mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah maknanya: menjaga jeda, menjaga nalar.
Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang emosional adalah adil. Dan tidak semua yang terlihat seperti kebenaran adalah kebenaran itu sendiri.
Kita tidak harus menjadi netral tanpa sikap. Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir sebelum memilih sisi.
Penutup: Antara Api dan Akal
Dunia hari ini seperti api yang menyebar cepat—dipicu oleh narasi, diperbesar oleh teknologi, dan dipelihara oleh emosi. Di tengah itu, kita dihadapkan pada pilihan: ikut terbakar, atau tetap menjaga akal.
Karena pada akhirnya, yang menentukan arah masa depan bukan hanya siapa yang paling keras berteriak, tetapi siapa yang masih mampu berpikir jernih di tengah kebisingan.
Dan mungkin, di kota kecil seperti Pontianak, di antara antrean BBM dan secangkir kopi liberika, kita masih punya kesempatan itu.
Baca Juga: Cegah Penyelewengan BBM, Polsek Gelar Patroli SPBU di Mukok dan Atur Antrean Kendaraan
Penulis: Gusti Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura)
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.















