Opini  

Kali Ini Kita Patut Puji Pemerintah, Harga BBM Tak Naik per 1 April 2026

"Pemerintah putuskan harga BBM tidak naik per 1 April 2026 meski dihantam isu hoaks dan antrean panjang. Simak ulasan tajam fenomena panic buying masyarakat."
Pemerintah putuskan harga BBM tidak naik per 1 April 2026 meski dihantam isu hoaks dan antrean panjang. Simak ulasan tajam fenomena panic buying masyarakat. (Dok. Ist)

OPINI – Welcome April. Sebelum menertawakan diri sendiri dengan penuh kesadaran setengah matang, mari kita lakukan sesuatu yang jarang terjadi di negeri +62, memuji pemerintah tanpa jeda napas panjang penuh curiga.

Ya, benar. Di saat banyak negara di dunia sudah menyerah pada realitas lalu menaikkan harga BBM, pemerintah kita justru memilih jalan ninja, menahan harga tetap stabil.

Tepuk tanganlah sambil seruput Koptagul, wak!

Di tengah harga minyak dunia yang naik karena ketegangan Timur Tengah, nilai tukar rupiah yang goyang seperti sinyal WiFi tetangga, dan tekanan ekonomi global yang lebih horor dari film tengah malam, pemerintah tetap berkata, “Tenang, tidak ada kenaikan.”

Pertalite tetap Rp10.000, Pertamax Rp12.300, Solar subsidi Rp6.800 per liter. Stabil. Kalem. Seolah badai global itu cuma angin kipas angin level satu.

Baca Juga: Istana Pastikan Stok BBM Pertamina Aman Seluruh Indonesia

Ini bukan keputusan biasa. Ini seperti berdiri di tengah gunung meletus sambil bilang, “Masih aman, cuma asap tipis.” Antara keberanian tingkat kosmik atau keyakinan yang sudah melampaui logika manusia biasa.

Tapi ya sudahlah, kita akui saja, niatnya demi rakyat. Demi kita yang tiap hari menghitung bensin lebih detail dari menghitung masa depan.

Nah, setelah pujian yang mungkin membuat sebagian pembaca refleks mengecek suhu tubuh ini, mari masuk ke inti kekacauan nasional bernama, panic buying berbasis rumor.

Begitu masuk 1 April 2026, negeri ini langsung berubah jadi laboratorium sosial terbesar di Asia Tenggara.

Rumor beredar liar di media sosial. Harga BBM non-subsidi bakal naik signifikan, bahkan disebut-sebut Pertamax bisa tembus Rp17.850 per liter. Tidak ada sumber jelas, tapi kecepatan penyebarannya mengalahkan sinyal 5G yang masih debat lokasi.

Hasilnya? SPBU berubah jadi tempat ziarah modern. Antrean panjang mengular di Jabodetabek seperti di Bintaro, Kemang, Depok, Tangerang.

Lalu, menjalar ke Dago Bandung, Klaten, Semarang, Solo, Surabaya, Padang, Jember, Lampung, dan daerah lain. Ratusan meter. Berjam-jam.

Orang-orang datang membawa jerigen seperti sedang persiapan menghadapi kiamat versi bensin. Bahkan ada yang lebih lama antre dari nunggu kepastian hubungan.

Padahal pemerintah, melalui Istana, Kementerian ESDM, Pertamina, sampai Mensesneg, sudah klarifikasi resmi, tidak ada kenaikan harga BBM per 1 April 2026.

Tapi seperti biasa, di negeri ini, klarifikasi itu kalah pamor dengan broadcast WhatsApp berjudul “INFO PENTING!!! SEGERA ISI FULL!!!”.

Belum selesai, muncul babak kedua, pembatasan BBM subsidi mulai 1 April 2026 oleh BPH Migas. Rumornya kendaraan roda empat dibatasi maksimal 50 liter per hari, ada pengendalian volume per transaksi, semua demi efisiensi dan mencegah penyalahgunaan. Tujuan mulia. Eksekusi? Disambut dengan kepanikan level upgrade.

Rakyat langsung berpikir, “Kalau sekarang tidak isi, besok mungkin cuma dapat kenangan.” Maka antrean makin panjang, makin dramatis, makin filosofis. Ini bukan sekadar beli bensin, ini perjalanan spiritual menuju liter terakhir.

Di tengah semua itu, pemerintah juga meluncurkan WFH setiap Jumat untuk ASN mulai 1 April 2026. Alasannya efisiensi energi. Sebuah solusi cerdas, kalau bensin bikin panik, ya sudah, tidak usah dipakai. Produktivitas? Nanti kita diskusikan sambil rebahan.

Listrik ikut nimbrung dengan penyesuaian tarif, rakyat mendadak jadi ahli kWh. Pajak memberi napas lega dengan perpanjangan SPT sampai 30 April 2026. Langit menghadirkan Pink Moon yang indah tapi tidak membantu mengurai antrean. Sementara BRIN memperingatkan El Nino ekstrem, alias “Godzilla cuaca”, siap datang membawa kekeringan dan drama baru.

Akhirnya, April 2026 terasa seperti panggung teater absurd. BBM tidak naik, tapi emosi naik. Tidak ada krisis resmi, tapi kepanikan sudah seperti trailer film bencana. Di sinilah kita berdiri, bangsa yang tidak butuh kenyataan untuk panik, cukup rumor dan satu tanggal sakral.

Selamat datang di April. Isi bensin boleh tidak penuh, tapi imajinasi? Selalu full tank.

Baca Juga: Breaking News: Isu Hoaks dan Fenomena Ikut-ikutan Picu Antrean BBM Kembali di SPBU Pontianak Selasa Malam

Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)