Faktakalbar.id, PONTIANAK — Jauh sebelum kapal feri modern membelah Sungai Kapuas, jalur penyeberangan ikonik Bardan–Siantan di Kota Pontianak ternyata berawal dari rakit bambu sederhana.
Sejarah mencatat, layanan yang kini menjadi urat nadi transportasi warga tersebut sudah eksis sejak tahun 1932, berawal dari inisiatif tokoh lokal dan dukungan kesultanan.
Seorang sejarawan Pontianak mengungkapkan bahwa embrio penyeberangan ini digagas oleh Raden Muslimun Nalaprana pada masa pra-kemerdekaan. Saat itu, sarana yang digunakan bukanlah kapal motor, melainkan pelampung yang terbuat dari susunan bambu dan kayu.
“Inisiatif awal itu digagas oleh Raden Muslimun Nalaprana. Waktu itu belum ada kapal, yang digunakan masih pelampung dari bambu,” ungkap Syafaruddin Daeng Usman sang sejarawan.
Baca Juga: Cegah Stroke Mendadak, Dinkes Pontianak Imbau Warga Rutin Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis
Langkah ini rupanya mendapat perhatian dan dukungan penuh dari Sultan Pontianak saat itu, Sultan Syarif Muhammad Al-Qadri, yang dikenal sangat dermawan dalam mendukung fasilitas publik bagi masyarakat.
Transformasi besar-besaran baru terjadi pasca-kemerdekaan, tepatnya sekitar tahun 1950. Wali Kota perempuan pertama Pontianak, Rohana Muthalib, bersama anggota DPR Ahmad Nur, mendorong pengadaan sarana yang lebih modern. Peran Ahmad Nur bahkan diabadikan melalui penamaan Jalan Bardan.
“Dari situ mulai ada dermaga dan kapal penyeberangan. Bahkan nama Jalan Bardan juga diberikan oleh Ahmad Nur,” jelasnya.
Memasuki era 1960-an, teknologi mulai masuk dengan hadirnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) seperti KMP Gurami dan KMP Birawa yang mampu mengangkut 10 unit mobil serta 150 penumpang.
Meski sering terkendala mesin yang mati hingga kapal hanyut terbawa arus, operasional terus dibenahi hingga sistem manajemen penyeberangan menjadi lebih tertata pada tahun 1970-an.
Tak hanya soal transportasi, feri Bardan–Siantan di masa lalu adalah pusat ekonomi rakyat. Pelampung bambu yang menjadi dermaga darurat sering kali dipenuhi pedagang makanan dan kebutuhan harian.
















