Opini  

Walkota Singkawang dan Bupati Bengkayang “Biang Kerok” Antrean BBM di Kalbar

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie meninjau langsung kondisi antrean dan distribusi BBM di salah satu SPBU Kota Singkawang. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie meninjau langsung kondisi antrean dan distribusi BBM di salah satu SPBU Kota Singkawang. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

OPINI – Orang Kalbar ngumpul di sini sebentar. Kalian pasti merasa betapa dunia mau “kiamat” saat antre minyak di SPBU jelang lebaran kemarin. Pemerintah dan Pertamina bilang stok aman. Tapi, terjadi panic buying brutal. Lalu, bertanya, apa penyebab sebenarnya? Akhirnya terjawab, penyebabnya datang dari Walikota Singkawang dan Bupati Bengkayang. Keduanya, “mandai-mandai” ngeluarkan Surat Edaran pembatasan BBM. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie dan Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis, dengan niat mulia menggelar rapat bersama Forkopimda dan Pertamina sekitar pertengahan Maret. Mereka melihat antrean sudah kacau balau. Lalu, mengeluarkan surat edaran yang isinya membatasi pengisian BBM. Motor kecil di bawah 125 cc maksimal 3 liter per hari, motor besar 5 liter, mobil pribadi 30 liter. SPBU pun dibatasi jam operasionalnya. Tujuannya? Mengurai antrean supaya tidak macet total dan distribusi lebih merata.

Baca Juga: Mendagri Soroti Pembatasan BBM di Singkawang, Tekankan Pentingnya Antisipasi Dinamika Global

Hasilnya? Brilian. Surat edaran yang dimaksudkan untuk menenangkan malah jadi pemicu kepanikan massal. Masyarakat membacanya sebagai kode rahasia. “Wah, ini pertanda BBM akan habis nih!” Dalam sekejap, panic buying meledak seperti kembang api. Orang yang biasanya isi 10 liter langsung minta full tank. Yang tadinya santai jadi berebut seperti lagi diskon 90 persen di mall. Antrean yang sudah panjang jadi super ultra panjang. Persis seperti yang dikeluhkan Mendagri Tito Karnavian pada 25 Maret 2026 di Istana Kepresidenan.

Tito dengan nada setengah gemas setengah kesal bilang, “Niatnya baik, mau mengurangi antrean. Tapi yang terjadi malah diterjemahkan, BBM akan kurang, sehingga akhirnya panic buying makin parah.” Ia langsung menghubungi Tjhai Chui Mie dan Sebastianus Darwis. Keduanya diminta cabut SE itu secepatnya sambil jelaskan ke publik bahwa stok aman. Kalau saya bayangkan adegannya gini “Eh lho bedua, cabut segera tu SE kalian!”

Singkawang lebih dulu sadar dan mencabut edarannya pada 18 Maret. Lalu, menyatakan antrean di 11 SPBU-nya sudah mulai normal. Bengkayang menyusul setelah instruksi pusat.