Hasilnya? Diplomasi super hati-hati. BRICS kehilangan suara kerasnya.
Sementara itu, anggota lain seperti tampil di film berbeda. Tiongkok langsung tegas, menyebut serangan AS dan Israel melanggar hukum internasional, mendukung kedaulatan Iran tanpa basa-basi.
Brasil ikut keras, mengutuk serangan dan menyoroti timing yang absurd, negosiasi belum selesai, bom sudah jalan.
Afrika Selatan tampil seperti hakim konstitusi global, menyebut pelanggaran Pasal 2(4) Piagam PBB, tapi juga mengkritik balasan Iran. Semua kena, tidak ada yang lolos.
Rusia tetap di jalur retorika kuat, menyebut agresi, memperingatkan eskalasi, sambil menyatakan tidak ada bukti Iran membuat senjata nuklir.
Lalu anggota baru? Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, dua raksasa energi, jelas punya kepentingan stabilitas kawasan. Mesir dan Ethiopia fokus pada dampak regional. Sementara Indonesia berada di posisi strategis, ingin aktif, tapi juga realistis menjaga keseimbangan diplomasi.
BOOM, di sinilah wajah asli BRICS terungkap. Ini bukan satu tubuh dengan satu jantung. Ini adalah 11 negara dengan 11 kalkulator, menghitung risiko masing-masing saat peluru mulai beterbangan. Solidaritas ada, tapi bersyarat. Persatuan ada, tapi fleksibel.
Perang Iran bukan cuma konflik militer. Ini mesin X-ray geopolitik. Ia menembus slogan dan memperlihatkan tulang asli BRICS. Kuat di atas kertas, tapi belum tentu solid saat krisis menyentuh kepentingan paling sensitif.
So, siapa kawan sejati? Siapa oportunis? Jawabannya, di panggung geopolitik, solidaritas itu nyata… sampai kepentingan datang mengetuk pintu.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksii.
















